Instructional Design Mastery: Ketika Pengalaman Saja Tidak Cukup

Instructional Design Mastery: Ketika Pengalaman Saja Tidak Cukup

Oleh: Bahari Antono, ST, MBA

Dalam dunia Learning & Development, pengalaman sering kali dianggap sebagai “jaminan” kompetensi. Mereka yang sudah bertahun-tahun berkecimpung di bidang HR atau learning diasumsikan telah memahami bagaimana merancang program yang efektif.

Namun realitas di lapangan tidak selalu demikian.

Banyak praktisi yang secara teknis sudah terbiasa melakukan Training Needs Analysis (TNA), menyusun program, hingga mengeksekusi pelatihan. Tetapi ketika dihadapkan pada kebutuhan untuk menggali masalah secara lebih dalam, sering kali pendekatannya masih berada di permukaan.

Terjebak di Jawaban, Bukan Masalah

Salah satu jebakan paling umum dalam proses TNA adalah terlalu cepat melompat ke kesimpulan: “user butuh training.”

Padahal, kebutuhan training adalah output, bukan titik awal.

Yang sering terjadi:

  • Praktisi langsung menerima cerita dari user sebagai “kebenaran”
  • Fokus pada solusi tanpa benar-benar memahami situasi
  • Tidak menggali konteks operasional yang sebenarnya terjadi di lapangan

Akibatnya, program yang dirancang menjadi kurang tajam, tidak relevan, atau hanya menyelesaikan gejala—bukan akar masalah.

Seni Bertanya: Kompetensi yang Sering Diabaikan

Kualitas hasil TNA sangat ditentukan oleh kualitas pertanyaan yang diajukan.

Di awal proses, pertanyaan sering terasa kaku dan terbatas. Namun ketika praktisi mulai benar-benar terlibat dalam eksplorasi masalah, terjadi pergeseran:

  • Dari sekadar bertanya → menjadi ingin memahami
  • Dari mengikuti alur cerita → mulai menguji asumsi
  • Dari mencari jawaban → menggali realitas

Perubahan ini tidak terjadi karena teori semata, melainkan melalui praktik langsung dan refleksi atas kesalahan yang terjadi.

Belajar dari Kesalahan, Bukan dari Penjelasan

Pendekatan pembelajaran yang efektif bukanlah yang penuh dengan teori, tetapi yang memberi ruang untuk mencoba, melakukan kesalahan, dan mendapatkan umpan balik yang tepat.

Satu insight sederhana dapat mengubah cara pandang secara signifikan:

Banyak praktisi terlalu cepat bertanya “kenapa butuh training”, tanpa benar-benar memahami “apa yang sebenarnya terjadi”.

Perbedaan ini terlihat kecil, tetapi dampaknya sangat besar.

Dengan menggali “apa yang terjadi”, praktisi dapat:

  • Memetakan gap kompetensi secara lebih akurat
  • Mengidentifikasi faktor non-training (proses, sistem, budaya)
  • Menentukan apakah training memang solusi yang tepat

Dari Informasi ke Insight

Salah satu tantangan terbesar dalam TNA adalah banyaknya informasi dari user. Tanpa kerangka berpikir yang tepat, praktisi bisa “tenggelam” dalam data tanpa arah yang jelas.

Kuncinya bukan pada seberapa banyak informasi yang dikumpulkan, tetapi pada kemampuan untuk:

  • Menyaring informasi yang relevan
  • Menghubungkan pola yang muncul
  • Menarik insight yang actionable

Dengan kata lain, TNA bukan sekadar aktivitas mengumpulkan data, tetapi proses berpikir kritis.

Refleksi untuk Praktisi HR & Learning

Jika Anda pernah merasa:

  • Sudah melakukan TNA, tetapi hasilnya tidak berdampak signifikan
  • Mendapat banyak informasi dari user, tetapi bingung harus mulai dari mana
  • Program training terasa “standar” dan kurang menyentuh kebutuhan nyata

Maka kemungkinan besar yang perlu diperbaiki bukan pada tools atau format, tetapi pada cara menggali dan memahami masalah.


Sebagai HR Consulting & Organization Development, HRD Forum mengajak para profesional HR dan Learning untuk kembali memperkuat fondasi dalam instructional design. Bukan hanya soal bagaimana merancang program, tetapi bagaimana memastikan bahwa setiap intervensi benar-benar berangkat dari kebutuhan yang tepat dan memberikan dampak yang nyata.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

Archives

You May Also Like

Banyak perusahaan merasa kekurangan talent, padahal masalah utamanya terletak pada cara mengelola karyawan. Artikel ini mengungkap bagaimana kesalahan dalam penempatan,...
Continuous Improvement adalah pendekatan strategis yang memungkinkan perusahaan di berbagai industri meningkatkan efisiensi, kualitas, dan daya saing secara berkelanjutan. Artikel...
Lean Management menjadi strategi kunci bagi industri manufacturing, mining, dan migas dalam menghadapi tekanan efisiensi dan kompleksitas operasional. Artikel ini...

You cannot copy content of this page