Kategori: Job Analysis | Organization Development | Human Resource Management
Job Description yang baik bukan sekadar daftar tugas. Ia adalah peta yang menjelaskan mengapa sebuah jabatan ada, apa yang harus dicapai, apa yang menjadi tanggung jawabnya, dan bagaimana kontribusi jabatan tersebut terhadap organisasi.
Banyak perusahaan memiliki Job Description (JD) untuk hampir seluruh posisi. Namun, tidak sedikit Job Description yang hanya menjadi dokumen administratif: dibuat ketika karyawan masuk, disimpan di folder HR, lalu jarang digunakan kembali.
Padahal, Job Description yang dirancang dengan benar dapat menjadi fondasi bagi berbagai sistem Human Capital, mulai dari recruitment, selection, onboarding, performance management, competency management, training & development, career path, job evaluation, hingga workforce planning.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan:
“Apakah perusahaan sudah memiliki Job Description?”
Tetapi:
“Apakah Job Description perusahaan benar-benar menjelaskan kontribusi strategis setiap jabatan?”
Artikel ini membahas cara membuat Job Description yang benar, mulai dari pengertian, fungsi, struktur, format, langkah-langkah penyusunan, contoh Job Description, kesalahan umum, hingga checklist yang dapat digunakan HR dan user.
Apa Itu Job Description?
Job Description adalah dokumen yang menjelaskan tujuan, tanggung jawab, tugas utama, ruang lingkup, hubungan kerja, dan karakteristik suatu jabatan dalam organisasi.
Job Description menjawab pertanyaan:
- Mengapa jabatan ini diperlukan?
- Apa tujuan utama jabatan ini?
- Apa tanggung jawabnya?
- Apa hasil utama yang diharapkan?
- Kepada siapa jabatan ini bertanggung jawab?
- Dengan siapa jabatan ini bekerja?
- Apa kewenangan yang dimiliki?
- Bagaimana keberhasilan jabatan tersebut diukur?
Dengan demikian, Job Description seharusnya tidak hanya berisi:
“Mengelola administrasi.”
Tetapi harus menjelaskan apa yang dikelola, untuk tujuan apa, dengan ruang lingkup seperti apa, dan hasil apa yang diharapkan.
Job Description Bukan Sekadar Daftar Tugas
Ini adalah salah satu kesalahan paling fundamental dalam penyusunan Job Description.
Misalnya:
Job Description yang lemah
HR Supervisor
- membuat laporan HR;
- mengurus absensi;
- membantu recruitment;
- mengurus training;
- membuat dokumen HR.
Secara administratif terlihat lengkap.
Tetapi masih banyak pertanyaan yang belum terjawab:
- Apa tujuan jabatan tersebut?
- Apa hasil utama yang harus dicapai?
- Apa tingkat tanggung jawabnya?
- Apa kewenangannya?
- Apa keputusan yang boleh dibuat?
- Bagaimana keberhasilannya diukur?
- Apa kompetensi yang dibutuhkan?
Bandingkan dengan pendekatan yang lebih kuat:
Job Purpose
Mengelola pelaksanaan operasional Human Resources secara efektif untuk memastikan ketersediaan layanan HR yang akurat, tepat waktu, compliant, dan mendukung kebutuhan organisasi.
Kemudian tanggung jawab utama diturunkan dari tujuan tersebut.
Inilah perbedaan antara Job Description sebagai daftar pekerjaan dan Job Description sebagai arsitektur sebuah jabatan.
Mengapa Job Description Sangat Penting?
Job Description memiliki fungsi strategis karena menjadi salah satu fondasi berbagai sistem HR.
1. Recruitment
Recruiter membutuhkan JD untuk memahami:
Siapa yang sebenarnya harus dicari?
Tanpa JD yang jelas, recruitment mudah berubah menjadi pencarian kandidat berdasarkan “feeling”.
2. Selection
Job Description membantu menentukan kriteria kandidat.
Dari sini HR dapat menurunkan:
Job Description β Job Requirement β Competency β Assessment β Selection Decision
3. Performance Management
KPI tidak seharusnya muncul dari ruang kosong.
Hubungannya dapat digambarkan:
Job Purpose
β
Key Responsibilities
β
Expected Outcomes
β
KPI
Dengan demikian, Job Description menjadi salah satu input penting dalam penyusunan KPI.
4. Competency Management
Kompetensi jabatan harus berkaitan dengan pekerjaan yang harus dilakukan.
Misalnya seorang Procurement Manager mungkin membutuhkan:
- negotiation;
- supplier management;
- procurement strategy;
- cost management;
- contract management.
Kompetensi tersebut harus memiliki hubungan logis dengan tanggung jawab jabatan.
5. Learning & Development
Training Need Analysis membutuhkan pemahaman mengenai:
Apa yang seharusnya mampu dilakukan oleh pemegang jabatan?
Job Description membantu menjelaskan konteks pekerjaan sebelum organisasi melakukan competency gap analysis.
6. Career Management
Job Description membantu organisasi membandingkan pekerjaan antarjabatan.
Misalnya:
Staff β Senior Staff β Supervisor β Manager
Perbedaannya bukan hanya pada nama jabatan, tetapi juga:
- scope;
- complexity;
- accountability;
- decision making;
- people responsibility;
- business impact.
7. Job Evaluation
Job Description yang berkualitas juga menjadi salah satu input penting dalam melakukan Job Evaluation.
Semakin jelas informasi mengenai:
- responsibility;
- complexity;
- decision making;
- impact;
- knowledge;
- accountability;
semakin kuat dasar organisasi untuk mengevaluasi bobot sebuah jabatan.
The Job Architecture Chainβ’
Salah satu cara terbaik memahami posisi Job Description dalam sistem HR adalah melihatnya sebagai bagian dari sebuah rantai.
Strategy β Organization β Job β Competency β KPI β Development
Artinya:
Business Strategy
β
Organization Design
β
Job Analysis
β
Job Description
β
Job Specification
β
Competency
β
KPI
β
Learning & Development
Ini menghasilkan satu prinsip penting:
Job Description bukan produk akhir Job Analysis. Ia adalah titik penghubung antara desain organisasi dan sistem Human Capital lainnya.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip bahwa pekerjaan perlu dipahami dalam konteks organisasi, tanggung jawab, kompetensi, dan outcomeβbukan sekadar daftar aktivitas.
Perbedaan Job Description dan Job Specification
Keduanya sering dicampur.
Padahal berbeda.
Job Description
Menjelaskan pekerjaannya.
Contohnya:
- Job Title
- Job Purpose
- Key Responsibilities
- Authority
- Reporting Relationship
- Key Interfaces
- KPI
Job Specification
Menjelaskan orang seperti apa yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan tersebut.
Contohnya:
- pendidikan;
- pengalaman;
- pengetahuan;
- technical competency;
- behavioral competency;
- certification;
- kemampuan tertentu.
Sederhananya:
Job Description = What the job requires
Job Specification = What the person requires
Struktur Job Description yang Ideal
Tidak ada satu format universal yang wajib digunakan semua perusahaan. Namun, untuk organisasi yang ingin membangun sistem HR yang terintegrasi, struktur berikut cukup komprehensif.
1. Job Identification
Berisi informasi dasar jabatan:
- Job Title;
- Job Code;
- Department;
- Division;
- Function;
- Location;
- Job Level/Grade;
- Reports To;
- Direct Reports.
2. Job Purpose
Ini adalah salah satu bagian terpenting.
Job Purpose menjawab:
“Mengapa jabatan ini ada?”
Idealnya cukup satu paragraf pendek.
Contoh:
Mengelola proses recruitment untuk memastikan organisasi memperoleh talent yang kompeten, tepat waktu, dan sesuai kebutuhan bisnis.
3. Key Responsibilities
Berisi tanggung jawab utama jabatan.
Gunakan kata kerja yang jelas.
Contoh:
- mengembangkan recruitment strategy;
- mengelola recruitment process;
- melakukan talent sourcing;
- melakukan screening kandidat;
- mengoordinasikan interview;
- melakukan monitoring recruitment metrics.
Hindari kalimat yang terlalu umum seperti:
“Melaksanakan tugas lain yang diberikan atasan.”
Kalimat tersebut boleh muncul sebagai general clause, tetapi jangan menjadi inti Job Description.
4. Key Accountabilities
Ini lebih kuat daripada sekadar daftar aktivitas.
Tanyakan:
“Apa yang menjadi pertanggungjawaban utama pemegang jabatan?”
Contoh:
Responsibility:
Mengelola proses recruitment.
Accountability:
Memastikan posisi kritikal terpenuhi sesuai target waktu, kualitas kandidat, dan recruitment budget yang telah ditetapkan.
Perbedaan ini penting.
Activity menjelaskan apa yang dilakukan.
Accountability menjelaskan hasil yang harus dipertanggungjawabkan.
5. Key Performance Indicators
KPI dapat dicantumkan sebagai indikator utama keberhasilan jabatan.
Contoh Recruitment Manager:
- Time to Fill;
- Quality of Hire;
- Offer Acceptance Rate;
- Recruitment Cost;
- Hiring Manager Satisfaction.
Namun perlu diperhatikan:
Job Description tidak harus memuat seluruh KPI tahunan secara detail.
JD dapat mencantumkan KPI utama, sementara target tahunan ditetapkan melalui Performance Management System.
6. Authority
Jelaskan kewenangan jabatan.
Contoh:
- memberikan rekomendasi kandidat;
- menyetujui recruitment schedule;
- mengelola recruitment budget dalam batas tertentu;
- menentukan sourcing channel;
- memberikan rekomendasi vendor recruitment.
Authority penting agar organisasi tidak hanya mendefinisikan responsibility, tetapi juga decision rights.
7. Key Internal & External Relationships
Jelaskan dengan siapa jabatan tersebut berinteraksi.
Internal
- HR Director;
- HR Business Partner;
- Hiring Manager;
- Finance;
- Legal;
- Department Head.
External
- recruitment agency;
- candidate;
- assessment provider;
- university;
- professional association.
8. Job Specification
Bagian ini dapat mencakup:
Education
Contoh:
Minimum Bachelor’s Degree in Human Resources, Psychology, Management, or related field.
Experience
Minimum 5 years of experience in Talent Acquisition.
Technical Competencies
- Recruitment Management;
- Talent Sourcing;
- Interviewing;
- Assessment;
- HR Analytics.
Behavioral Competencies
- Communication;
- Stakeholder Management;
- Problem Solving;
- Collaboration;
- Integrity.
9. Working Conditions
Jika relevan, jelaskan:
- work location;
- travel requirement;
- shift;
- working environment;
- physical requirements;
- special conditions.
Tidak semua jabatan membutuhkan bagian ini.
Cara Membuat Job Description yang Benar
Berikut proses yang dapat digunakan HR bersama pemilik jabatan.
Langkah 1 β Pahami Organization Structure
Jangan membuat Job Description sebelum memahami struktur organisasi.
Pertanyaan yang perlu dijawab:
- Jabatan ini berada di mana?
- Kepada siapa melapor?
- Siapa yang melapor kepadanya?
- Apa fungsi departemennya?
- Apa hubungan jabatan ini dengan jabatan lain?
Karena sebuah jabatan tidak berdiri sendiri.
Langkah 2 β Pahami Job Purpose
Tanyakan kepada Job Holder dan Manager:
“Mengapa posisi ini dibutuhkan oleh organisasi?”
Kemudian lanjutkan:
“Apa yang akan hilang jika posisi ini tidak ada?”
Pertanyaan kedua sering menghasilkan insight yang lebih tajam.
Jika jawabannya hanya:
“Karena pekerjaan ini harus dikerjakan.”
maka analisis belum cukup dalam.
Langkah 3 β Identifikasi Key Responsibilities
Gunakan interview, observation, questionnaire, document review, atau workshop Job Analysis.
Identifikasi:
- aktivitas utama;
- keputusan yang dibuat;
- masalah yang ditangani;
- stakeholder yang dikelola;
- sumber daya yang digunakan;
- output yang dihasilkan.
Jangan langsung menulis semua aktivitas.
Kelompokkan aktivitas menjadi responsibility areas.
Langkah 4 β Tentukan Key Accountabilities
Setelah responsibilities terkumpul, tanyakan:
“Apa hasil utama yang harus dihasilkan dari tanggung jawab ini?”
Contoh:
Aktivitas:
Melakukan monitoring recruitment.
Accountability:
Memastikan proses recruitment posisi prioritas berjalan sesuai SLA dan kebutuhan bisnis.
Perubahan kecil dalam bahasa tersebut menghasilkan perbedaan besar dalam kualitas JD.
Langkah 5 β Identifikasi Decision & Authority
Tanyakan:
- keputusan apa yang dibuat?
- keputusan apa yang direkomendasikan?
- keputusan apa yang membutuhkan approval?
- berapa besar scope kewenangannya?
- apa risiko keputusan tersebut?
Ini penting terutama untuk jabatan managerial dan strategic.
Langkah 6 β Tentukan Job Requirements
Setelah memahami pekerjaan, baru tentukan orang seperti apa yang dibutuhkan.
Gunakan prinsip:
Job First β Person Second
Jangan membangun Job Specification berdasarkan orang yang saat ini menduduki jabatan.
Ini kesalahan yang cukup sering terjadi.
Contoh:
“Karena orang yang sekarang menjabat lulusan X, maka posisi ini harus lulusan X.”
Belum tentu.
Yang seharusnya ditanyakan:
“Apa pengetahuan, kompetensi, pengalaman, dan kualifikasi yang benar-benar diperlukan untuk menjalankan pekerjaan?”
Langkah 7 β Validasi dengan Atasan
Draft Job Description harus dibahas bersama:
- Job Holder;
- Immediate Supervisor;
- HR/HRBP;
- jika diperlukan, Function Head.
Tujuannya bukan mencari siapa yang “paling benar”.
Tujuannya memastikan adanya alignment mengenai scope pekerjaan.
Langkah 8 β Validasi Cross-Functional
Untuk jabatan yang memiliki banyak interaksi lintas fungsi, lakukan cross-check.
Contohnya:
Procurement Manager berinteraksi dengan:
- Finance;
- Legal;
- Operations;
- Warehouse;
- Suppliers.
Pastikan tidak terjadi:
- overlapping authority;
- duplicated responsibility;
- responsibility gap.
Langkah 9 β Hubungkan dengan KPI dan Kompetensi
Setelah JD selesai, lakukan alignment:
Responsibility β Accountability β KPI β Competency
Contoh:
Responsibility
Mengelola recruitment.
β
Accountability
Memastikan posisi kritikal terpenuhi tepat waktu dengan kandidat berkualitas.
β
KPI
Time to Fill + Quality of Hire.
β
Competency
Recruitment Management + Stakeholder Management + Assessment.
Inilah yang membuat Job Description menjadi bagian dari Human Capital Architecture, bukan dokumen administratif.
Langkah 10 β Review Secara Berkala
Job Description bukan dokumen yang berlaku selamanya.
Review ketika terjadi:
- perubahan strategi;
- restrukturisasi;
- perubahan teknologi;
- digital transformation;
- perubahan proses bisnis;
- merger/acquisition;
- perubahan regulasi;
- perubahan scope jabatan.
Minimal, perusahaan sebaiknya memiliki mekanisme review berkala.
Contoh Job Description
Berikut contoh sederhana untuk posisi HR Manager.
JOB DESCRIPTION
A. Job Identification
Job Title: HR Manager
Department: Human Resources
Reports To: HR Director
Direct Reports: HR Supervisor, HR Staff
B. Job Purpose
Mengelola dan mengembangkan fungsi Human Resources untuk memastikan organisasi memiliki sistem, proses, dan talent yang mendukung pencapaian strategi bisnis serta terciptanya organisasi yang produktif, compliant, dan berkelanjutan.
C. Key Responsibilities
- Mengembangkan dan mengimplementasikan HR strategy.
- Mengelola manpower planning.
- Mengelola recruitment dan talent acquisition.
- Mengembangkan performance management system.
- Mengelola learning & development.
- Mengelola employee relations.
- Mengembangkan HR policies dan procedures.
- Mengelola HR analytics dan reporting.
- Memberikan strategic HR advice kepada management.
- Memastikan implementasi kebijakan HR sesuai regulasi yang berlaku.
D. Key Accountabilities
- Ketersediaan talent sesuai kebutuhan organisasi.
- Efektivitas sistem performance management.
- Pengembangan kompetensi karyawan.
- Efektivitas employee relations.
- Kepatuhan terhadap kebijakan dan regulasi ketenagakerjaan.
- Efisiensi biaya HR.
- Ketersediaan HR data yang akurat untuk pengambilan keputusan.
E. Key Performance Indicators
- Employee Turnover;
- Time to Fill;
- Training Effectiveness;
- Employee Engagement;
- HR Cost Efficiency;
- HR Compliance.
F. Key Internal Relationships
- CEO;
- Directors;
- Department Heads;
- Finance;
- Legal;
- Operations.
G. Job Requirements
Education:
Minimum Bachelor’s Degree in Human Resources, Psychology, Management, or related field.
Experience:
Relevant experience in Human Resources management.
Technical Competencies:
- HR Management;
- Performance Management;
- Talent Management;
- Industrial Relations;
- HR Analytics.
Behavioral Competencies:
- Strategic Thinking;
- Leadership;
- Communication;
- Stakeholder Management;
- Problem Solving;
- Integrity.
Format Job Description yang Direkomendasikan
Berikut format yang dapat digunakan perusahaan:
| No | Komponen | Isi |
|---|---|---|
| 1 | Job Title | Nama jabatan |
| 2 | Job Code | Kode jabatan |
| 3 | Department | Departemen |
| 4 | Division | Divisi |
| 5 | Reports To | Atasan langsung |
| 6 | Direct Reports | Bawahan langsung |
| 7 | Job Purpose | Tujuan jabatan |
| 8 | Key Responsibilities | Tanggung jawab utama |
| 9 | Key Accountabilities | Hasil yang dipertanggungjawabkan |
| 10 | Authority | Kewenangan |
| 11 | KPI | Indikator kinerja utama |
| 12 | Internal Relationship | Hubungan internal |
| 13 | External Relationship | Hubungan eksternal |
| 14 | Education | Pendidikan |
| 15 | Experience | Pengalaman |
| 16 | Technical Competency | Kompetensi teknis |
| 17 | Behavioral Competency | Kompetensi perilaku |
| 18 | Certification | Sertifikasi bila diperlukan |
| 19 | Working Condition | Kondisi kerja |
| 20 | Document Control | Version, date, approval |
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Membuat Job Description
1. Copy-Paste dari Internet
Ini mungkin cepat.
Tetapi menghasilkan JD generik.
Job Description seharusnya menggambarkan organisasi Anda, bukan organisasi orang lain.
2. Terlalu Banyak Tugas
JD menjadi sangat panjang tetapi tidak menunjukkan prioritas.
Panjang β lengkap.
3. Menggunakan Kata Kerja yang Tidak Jelas
Contoh:
- membantu;
- menangani;
- mendukung;
- mengurus;
- melaksanakan.
Kata-kata tersebut tidak selalu salah, tetapi perlu konteks yang jelas.
Lebih baik:
Mengelola, mengembangkan, menganalisis, memastikan, mengoordinasikan, mengevaluasi, merancang, mengendalikan.
Gunakan kata kerja yang menggambarkan level tanggung jawab.
4. Job Description Tidak Membedakan Level Jabatan
Ini masalah serius.
Job Description:
Staff β Supervisor β Manager β General Manager
seharusnya menunjukkan perbedaan dalam:
- complexity;
- scope;
- authority;
- accountability;
- decision making;
- business impact.
Jika JD Staff dan Manager hampir sama, organisasi kemungkinan memiliki masalah job architecture.
5. JD Dibuat Berdasarkan Orang yang Menjabat
Ini menghasilkan:
Person-Based Job Description
bukan:
Job-Based Description
Jabatan harus tetap memiliki identitas meskipun orang yang mengisinya berganti.
6. Tidak Ada Hubungan dengan KPI
Jika JD mengatakan:
“Mengelola recruitment.”
tetapi KPI-nya:
“Jumlah interview.”
maka organisasi perlu mempertanyakan apakah indikator tersebut benar-benar menggambarkan keberhasilan jabatan.
7. Tidak Pernah Diperbarui
Organisasi berubah.
Teknologi berubah.
Strategi berubah.
Job Description juga harus berubah ketika pekerjaan berubah secara material.
The JD Quality Testβ’
Sebelum sebuah Job Description disahkan, gunakan 10 pertanyaan berikut:
Strategic
1. Apakah tujuan jabatan jelas?
Organizational
2. Apakah posisi jabatan dalam organisasi jelas?
Accountability
3. Apakah tanggung jawab utama dapat dibedakan dari sekadar aktivitas?
Outcome
4. Apakah hasil utama jabatan dapat diidentifikasi?
Authority
5. Apakah kewenangan sesuai dengan tanggung jawab?
Measurement
6. Apakah keberhasilan jabatan dapat diukur?
Competency
7. Apakah kompetensi yang dibutuhkan benar-benar berasal dari pekerjaan?
Differentiation
8. Apakah JD membedakan level jabatan secara jelas?
Integration
9. Apakah JD dapat digunakan untuk recruitment, KPI, competency, dan development?
Currency
10. Apakah JD masih relevan dengan kondisi organisasi saat ini?
Jika sebagian besar jawabannya ya, Job Description tersebut sudah memiliki fondasi yang baik.
Job Description sebagai “Kontrak Ekspektasi”
Ada satu perspektif yang sering dilupakan.
Job Description sebenarnya bukan hanya dokumen HR.
Ia adalah kontrak ekspektasi organisasi terhadap sebuah jabatan.
Sebelum seseorang mulai bekerja, organisasi perlu dapat menjawab:
Apa yang kami harapkan dari jabatan ini?
Dan pemegang jabatan perlu dapat menjawab:
Apa yang sebenarnya menjadi tanggung jawab saya?
Jika dua perspektif tersebut tidak bertemu, konflik ekspektasi sangat mudah terjadi.
Karena itu:
Job Description yang buruk menciptakan ambiguity. Job Description yang baik menciptakan clarity.
Job Description β KPI β Competency: Tiga Dokumen yang Harus Terhubung
Dalam organisasi yang mature, tiga elemen ini tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
Job Description
Apa yang harus dilakukan?
β
KPI
Seberapa baik harus dilakukan?
β
Competency
Kemampuan apa yang diperlukan untuk melakukannya dengan baik?
Dari sini kemudian dapat diturunkan:
Learning & Development
Apa yang perlu dikembangkan?
Inilah salah satu fondasi penting Competency-Based Human Capital Management.
Checklist Job Description
Gunakan checklist berikut sebelum dokumen disahkan.
- Job Title jelas.
- Job Level jelas.
- Department dan Division jelas.
- Reporting relationship jelas.
- Direct reports jelas.
- Job Purpose tersedia.
- Key Responsibilities jelas.
- Key Accountabilities jelas.
- Authority dijelaskan.
- KPI utama dapat diidentifikasi.
- Internal relationships jelas.
- External relationships dijelaskan jika relevan.
- Education requirement jelas.
- Experience requirement jelas.
- Technical competencies tersedia.
- Behavioral competencies tersedia.
- Job level tercermin dalam scope dan complexity.
- Tidak terjadi overlap dengan jabatan lain.
- Tidak ada responsibility gap.
- JD telah divalidasi oleh atasan.
- JD terhubung dengan KPI.
- JD terhubung dengan competency.
- JD memiliki version control.
- JD memiliki mekanisme review.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Job Description
Apa itu Job Description?
Job Description adalah dokumen yang menjelaskan tujuan, tanggung jawab, ruang lingkup, kewenangan, hubungan kerja, dan karakteristik suatu jabatan dalam organisasi.
Bagaimana cara membuat Job Description?
Secara umum, prosesnya dimulai dengan memahami struktur organisasi dan tujuan jabatan, melakukan Job Analysis, mengidentifikasi responsibilities dan accountabilities, menentukan authority, menyusun job requirements, memvalidasi dengan atasan dan stakeholder, kemudian menghubungkannya dengan KPI dan competency.
Apa saja isi Job Description?
Isi Job Description dapat mencakup Job Title, Job Purpose, Key Responsibilities, Key Accountabilities, Authority, KPI, Reporting Relationship, Internal/External Relationship, Education, Experience, Technical Competency, Behavioral Competency, dan Working Conditions.
Apa perbedaan Job Description dan Job Specification?
Job Description menjelaskan pekerjaan dan tanggung jawab jabatan, sedangkan Job Specification menjelaskan persyaratan orang yang dibutuhkan untuk menjalankan jabatan tersebut.
Apakah Job Description harus mencantumkan KPI?
KPI utama dapat dicantumkan untuk memberikan gambaran mengenai ukuran keberhasilan jabatan. Namun target dan scoring KPI yang bersifat periodik sebaiknya dikelola melalui Performance Management System.
Siapa yang membuat Job Description?
Idealnya Job Description disusun melalui kolaborasi antara HR/HRBP, pemilik jabatan, dan atasan langsung, bukan dibuat HR seorang diri. Untuk jabatan tertentu, stakeholder lintas fungsi juga perlu dilibatkan.
Kapan Job Description harus diperbarui?
JD perlu ditinjau ketika terjadi perubahan signifikan pada strategi, struktur organisasi, proses bisnis, teknologi, tanggung jawab jabatan, atau regulasi yang relevan.
Kesimpulan
Cara membuat Job Description yang benar dimulai bukan dari menulis daftar tugas, tetapi dari memahami alasan mengapa sebuah jabatan ada.
Job Description yang berkualitas harus mampu menjawab lima pertanyaan fundamental:
Why does the job exist?
What must the job deliver?
What is the job accountable for?
What authority does the job have?
What capabilities are required to succeed?
Jika kelima pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan jelas, Job Description akan jauh lebih bernilai daripada sekadar dokumen administratif.
Lebih jauh lagi, Job Description harus menjadi bagian dari sebuah sistem:
Organization Design
β
Job Analysis
β
Job Description
β
Job Specification
β
Competency
β
KPI
β
Performance Management
β
Learning & Development
Inilah perubahan paradigma yang perlu dilakukan perusahaan:
Jangan membuat Job Description hanya untuk menjelaskan pekerjaan. Buat Job Description untuk menjelaskan kontribusi.
Karena pada akhirnya, sebuah jabatan tidak dinilai dari berapa banyak aktivitas yang dilakukan, tetapi dari seberapa besar kontribusinya terhadap tujuan organisasi.
Tentang HRD Forum
HRD Forum adalah Strategic HR Consulting & Organization Development yang berfokus pada pengembangan Human Capital, Organization Development, HR Management, Performance Management, Competency Management, Learning & Development, dan berbagai solusi strategis Human Resources.
Untuk organisasi yang ingin membangun Job Description, Job Analysis, Job Evaluation, Competency Dictionary, KPI, dan Human Capital Architecture secara terintegrasi, pendekatan sebaiknya tidak dilakukan secara parsial. Setiap elemen harus saling terhubung dalam satu arsitektur Human Capital.
Jika ada kebutuhan konsultasi, training, inhouse training, pengerjaan project HR silakan lengkapi form ini. FORM PERMINTAAN
Referensi dan Best Practice
Penyusunan artikel ini mengikuti prinsip Human Capital, Organization Development, Job Analysis, Job Description, Job Evaluation, Competency Management, dan Performance Management sebagaimana tercakup dalam persona Executive Grand Master Human Capital Strategist.
Pendekatan artikel juga mengikuti prinsip Thought Architect: tidak berhenti pada definisi dan best practice, tetapi berupaya mengidentifikasi hidden problem, membangun framework, dan menghasilkan perubahan cara berpikir.
Referensi profesional yang relevan:
- CIPD β Job Analysis, Job Design & Performance Management
- SHRM β Job Description & Job Analysis Practices
- HRCI β Human Resource Management Practices
- WorldatWork β Job Evaluation & Total Rewards
- Korn Ferry / Hay Method β Job Evaluation & Job Architecture
- Kaplan & Norton β Balanced Scorecard