Kamus Kompetensi: Pengertian, Fungsi, Struktur, dan Cara Menyusunnya untuk Organisasi
Kategori: Strategic HR Management
Slug: kamus-kompetensi
Dalam banyak organisasi, kompetensi sering disebut sebagai salah satu fondasi utama Human Capital Management. Perusahaan menyusun Competency Framework, melakukan Competency Assessment, merancang program Learning & Development, membangun Career Path, hingga menghubungkan kompetensi dengan Performance Management.
Namun, terdapat satu komponen penting yang sering kali belum dipahami atau disusun secara memadai, yaitu Kamus Kompetensi.
Tanpa Kamus Kompetensi yang jelas, organisasi dapat menghadapi berbagai masalah. Misalnya, setiap assessor memiliki interpretasi berbeda mengenai arti suatu kompetensi. Atasan menilai karyawan berdasarkan persepsi pribadi. Program pengembangan tidak memiliki arah yang spesifik. Bahkan, framework kompetensi yang sebenarnya baik menjadi sulit diimplementasikan secara konsisten.
Karena itu, Kamus Kompetensi bukan sekadar daftar nama kompetensi.
Kamus Kompetensi merupakan alat yang membantu organisasi menerjemahkan kebutuhan capability menjadi perilaku yang dapat dipahami, diamati, dinilai, dan dikembangkan.
Artikel ini membahas secara komprehensif pengertian Kamus Kompetensi, fungsi, struktur, jenis, contoh, serta cara menyusunnya secara strategis agar benar-benar mendukung kebutuhan organisasi.
Apa Itu Kamus Kompetensi?
Kamus Kompetensi adalah dokumen atau referensi terstruktur yang berisi definisi setiap kompetensi, indikator perilaku, serta level atau tingkat penguasaan kompetensi yang digunakan sebagai standar bersama dalam organisasi.
Secara sederhana, Kamus Kompetensi membantu menjawab beberapa pertanyaan penting:
- Kompetensi apa yang dibutuhkan organisasi?
- Apa arti dari setiap kompetensi?
- Perilaku seperti apa yang menunjukkan kompetensi tersebut?
- Apa perbedaan antara level dasar dan level yang lebih tinggi?
- Bagaimana kompetensi dapat diamati dan dinilai?
- Kompetensi seperti apa yang dibutuhkan untuk jabatan atau level tertentu?
Sebagai contoh, sebuah organisasi menetapkan Strategic Thinking sebagai kompetensi.
Tanpa Kamus Kompetensi, setiap orang mungkin memiliki pemahaman yang berbeda.
Sebagian menganggap Strategic Thinking berarti mampu membuat strategi.
Sebagian lainnya menganggapnya sebagai kemampuan berpikir jangka panjang.
Ada juga yang mengaitkannya dengan kemampuan memahami bisnis.
Kamus Kompetensi memberikan definisi dan indikator perilaku yang lebih jelas sehingga organisasi memiliki bahasa yang sama.
Mengapa Kamus Kompetensi Penting?
Kamus Kompetensi berfungsi sebagai fondasi bagi berbagai sistem Human Capital.
Nilainya bukan hanya terletak pada dokumen yang dihasilkan, tetapi pada kemampuannya menciptakan standar yang konsisten dalam mengelola manusia dan kapabilitas organisasi.
Secara strategis, Kamus Kompetensi dapat menjadi penghubung antara:
Business Strategy
↓
Organizational Capability
↓
Competency Requirement
↓
Behavioral Standard
↓
Assessment
↓
Development
↓
Performance & Career
Dengan hubungan tersebut, kompetensi tidak berdiri sendiri sebagai proyek HR.
Kompetensi menjadi bagian dari sistem yang mendukung kemampuan organisasi untuk menjalankan strategi.
Fungsi Utama Kamus Kompetensi
1. Menjadi Standar Bersama
Fungsi pertama Kamus Kompetensi adalah menciptakan kesamaan pemahaman.
Setiap kompetensi memiliki definisi yang jelas sehingga HR, pimpinan, assessor, dan karyawan menggunakan standar yang sama.
Misalnya, jika organisasi menggunakan kompetensi Collaboration, maka Kamus Kompetensi harus menjelaskan:
- apa yang dimaksud dengan Collaboration;
- perilaku yang diharapkan;
- perbedaan tingkat penguasaan;
- contoh penerapan dalam pekerjaan.
Dengan demikian, kompetensi tidak hanya menjadi istilah abstrak.
2. Mendukung Competency Assessment
Assessment membutuhkan standar.
Tanpa standar yang jelas, penilaian kompetensi berisiko menjadi subjektif.
Kamus Kompetensi membantu assessor menilai berdasarkan indikator perilaku yang telah ditetapkan.
Pertanyaan penilaian menjadi lebih terarah:
Apakah individu menunjukkan perilaku yang sesuai dengan kompetensi?
Bukan sekadar:
Apakah saya menyukai cara orang tersebut bekerja?
Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.
Assessment kompetensi harus berusaha mengurangi pengaruh opini pribadi dan meningkatkan konsistensi penilaian.
3. Menjadi Dasar Learning & Development
Setelah organisasi mengetahui kompetensi yang dibutuhkan dan gap kompetensi yang dimiliki individu, perusahaan dapat merancang program pengembangan secara lebih terarah.
Contohnya:
Required Competency
Strategic Thinking – Level 3
↓
Current Competency
Strategic Thinking – Level 1
↓
Competency Gap
Gap 2 Level
↓
Development Intervention
- business exposure;
- strategic project;
- mentoring;
- coaching;
- executive learning;
- cross-functional assignment.
Dengan pendekatan tersebut, Learning & Development tidak hanya dimulai dari pertanyaan:
“Pelatihan apa yang menarik?”
Tetapi:
“Capability apa yang harus dibangun untuk mendukung kebutuhan organisasi?”
4. Mendukung Career Development
Kamus Kompetensi membantu karyawan memahami kemampuan yang perlu dikembangkan untuk mencapai level karier berikutnya.
Misalnya:
Supervisor
Membutuhkan kemampuan:
- Planning;
- Problem Solving;
- Team Coordination;
- Performance Management.
Manager
Membutuhkan level yang lebih tinggi dalam:
- Strategic Thinking;
- Business Acumen;
- Stakeholder Management;
- People Development.
Senior Leader
Membutuhkan kemampuan seperti:
- Enterprise Leadership;
- Strategic Decision Making;
- Transformation Leadership;
- Future Orientation.
Dengan demikian, Career Development tidak hanya berbasis pada masa kerja.
Karyawan dapat memahami capability yang harus dibangun untuk siap mengambil peran yang lebih besar.
Perbedaan Kamus Kompetensi dan Competency Framework
Istilah Kamus Kompetensi dan Competency Framework sering digunakan secara bergantian. Padahal, keduanya memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling terkait.
Competency Framework
Competency Framework menjelaskan arsitektur atau struktur kompetensi yang digunakan organisasi.
Misalnya:
Core Competencies
Kompetensi yang berlaku bagi seluruh karyawan.
Contoh:
- Integrity;
- Collaboration;
- Customer Focus;
- Continuous Improvement.
Leadership Competencies
Kompetensi yang diperlukan oleh pemimpin.
Contoh:
- Strategic Thinking;
- Leading People;
- Decision Making;
- Change Leadership.
Functional Competencies
Kompetensi yang berkaitan dengan bidang atau fungsi tertentu.
Contoh:
- Recruitment;
- Financial Analysis;
- Sales Management;
- Supply Chain Planning.
Kamus Kompetensi
Kamus Kompetensi menjelaskan secara lebih detail isi dari setiap kompetensi tersebut.
Misalnya:
Competency
Strategic Thinking
Definition
Kemampuan memahami konteks bisnis, menganalisis faktor internal dan eksternal, melihat hubungan antarisu, serta mengembangkan perspektif dan pilihan yang mendukung pencapaian tujuan jangka panjang organisasi.
Behavioral Indicators
Perilaku yang menunjukkan kompetensi tersebut dapat dibedakan berdasarkan level penguasaan.
Dengan kata lain:
Competency Framework menjelaskan “kompetensi apa yang digunakan organisasi”.
Sedangkan:
Kamus Kompetensi menjelaskan “apa arti kompetensi tersebut dan bagaimana perilakunya terlihat”.
Struktur Ideal Sebuah Kamus Kompetensi
Kamus Kompetensi yang baik seharusnya tidak hanya berisi nama kompetensi.
Secara umum, setiap kompetensi dapat memiliki struktur berikut.
1. Nama Kompetensi
Nama harus:
- jelas;
- konsisten;
- mudah dipahami;
- relevan dengan kebutuhan organisasi.
Contoh:
Strategic Thinking
2. Definisi Kompetensi
Definisi menjelaskan secara ringkas dan jelas apa yang dimaksud dengan kompetensi tersebut.
Definisi sebaiknya tidak terlalu panjang.
Namun, harus cukup spesifik untuk membedakan satu kompetensi dengan kompetensi lainnya.
3. Tujuan atau Relevansi Kompetensi
Bagian ini menjelaskan mengapa kompetensi tersebut penting bagi organisasi.
Contoh:
Strategic Thinking diperlukan agar pemimpin tidak hanya berfokus pada permasalahan operasional jangka pendek, tetapi juga mampu mempertimbangkan arah bisnis, perubahan lingkungan, risiko, dan peluang masa depan.
4. Behavioral Indicators
Behavioral Indicators adalah perilaku yang dapat diamati dan menunjukkan penguasaan suatu kompetensi.
Contoh sederhana:
Collaboration
- membangun hubungan kerja yang efektif;
- berbagi informasi yang relevan;
- melibatkan pihak lain dalam penyelesaian masalah;
- bekerja lintas fungsi untuk mencapai tujuan bersama.
Indikator perilaku harus menggunakan bahasa yang dapat dipahami dan, sejauh mungkin, dapat diamati.
5. Proficiency Level
Setiap organisasi dapat menggunakan jumlah level yang berbeda.
Misalnya:
Level 1 — Foundation
Memahami dan menunjukkan perilaku dasar.
Level 2 — Effective
Menerapkan kompetensi secara mandiri dalam pekerjaan.
Level 3 — Advanced
Menggunakan kompetensi untuk menangani situasi yang lebih kompleks dan memberikan pengaruh kepada pihak lain.
Level 4 — Strategic
Mengarahkan, membangun, dan mengintegrasikan kompetensi untuk menghasilkan dampak yang lebih luas terhadap organisasi.
Jumlah level dapat disesuaikan.
Yang lebih penting adalah adanya perbedaan yang jelas antara satu level dengan level berikutnya.
Contoh Sederhana Kamus Kompetensi
Berikut ilustrasi sederhana.
Kompetensi: Strategic Thinking
Definisi
Kemampuan memahami arah bisnis, melihat hubungan antara berbagai faktor, mengantisipasi perubahan, serta mengembangkan perspektif dan pilihan strategis untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi.
Level 1 — Foundation
- memahami tujuan unit kerja;
- menghubungkan pekerjaan dengan target yang telah ditetapkan;
- mengenali faktor yang dapat memengaruhi pencapaian target.
Level 2 — Effective
- menganalisis masalah dari berbagai perspektif;
- mempertimbangkan dampak jangka pendek dan jangka panjang;
- mengidentifikasi peluang dan risiko yang relevan.
Level 3 — Advanced
- menghubungkan isu unit dengan strategi organisasi;
- mengembangkan beberapa alternatif solusi;
- membantu menentukan prioritas berdasarkan business impact.
Level 4 — Strategic
- mengidentifikasi perubahan dan tren yang dapat memengaruhi organisasi;
- membangun perspektif strategis jangka panjang;
- memengaruhi arah dan pilihan strategis organisasi.
Contoh ini menunjukkan bahwa level kompetensi tidak hanya berarti:
sedikit → banyak
atau:
junior → senior
Level kompetensi harus menunjukkan peningkatan dalam:
- kompleksitas;
- scope;
- autonomy;
- impact;
- decision making;
- influence.
Jenis-Jenis Kompetensi dalam Kamus Kompetensi
Struktur Kamus Kompetensi dapat disesuaikan dengan Competency Architecture organisasi.
Namun, secara umum terdapat beberapa kelompok utama.
1. Core Competencies
Core Competencies merupakan kompetensi yang mencerminkan perilaku dan nilai yang diharapkan dari seluruh anggota organisasi.
Contoh:
- Integrity;
- Collaboration;
- Customer Focus;
- Accountability;
- Continuous Improvement.
Kompetensi ini biasanya berlaku bagi seluruh karyawan, meskipun level penguasaan dapat berbeda berdasarkan jabatan.
2. Leadership Competencies
Leadership Competencies diperlukan untuk individu yang memiliki tanggung jawab memimpin orang, fungsi, atau organisasi.
Contoh:
- Strategic Thinking;
- Decision Making;
- Leading People;
- Developing Others;
- Change Leadership;
- Business Acumen.
3. Functional Competencies
Functional Competencies berkaitan dengan kemampuan yang dibutuhkan dalam fungsi atau bidang tertentu.
Contoh pada HR:
- Talent Acquisition;
- Workforce Planning;
- Performance Management;
- Organization Development;
- Industrial Relations.
Contoh pada Finance:
- Financial Planning;
- Financial Analysis;
- Budgeting;
- Financial Reporting.
4. Technical Competencies
Technical Competencies berhubungan dengan kemampuan teknis spesifik yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaan.
Contohnya dapat berbeda secara signifikan antara satu industri dan industri lainnya.
Bagaimana Menyusun Kamus Kompetensi?
Penyusunan Kamus Kompetensi sebaiknya tidak dimulai dengan mengambil daftar kompetensi secara acak.
Kamus Kompetensi harus relevan dengan kebutuhan organisasi.
Berikut pendekatan yang dapat digunakan.
Tahap 1: Memahami Business Strategy
Langkah pertama adalah memahami arah bisnis.
Beberapa pertanyaan yang perlu dijawab:
- Ke mana arah organisasi?
- Apa prioritas bisnis?
- Bagaimana strategi pertumbuhan?
- Apa perubahan yang akan terjadi?
- Capability apa yang dibutuhkan di masa depan?
Kompetensi harus memiliki hubungan dengan kebutuhan tersebut.
Misalnya, jika strategi perusahaan berfokus pada digital transformation, organisasi mungkin membutuhkan kompetensi seperti:
- Digital Literacy;
- Innovation;
- Data-Driven Decision Making;
- Change Agility.
Tahap 2: Mengidentifikasi Organizational Capability
Strategi membutuhkan kemampuan organisasi.
Misalnya:
Business Strategy
Menjadi market leader melalui customer experience.
↓
Required Organizational Capability
- customer centricity;
- service excellence;
- cross-functional collaboration;
- data-driven decision making.
↓
Required Competencies
- Customer Focus;
- Collaboration;
- Problem Solving;
- Data Literacy.
Tahap ini memastikan bahwa kompetensi tidak hanya dipilih karena populer.
Tahap 3: Menentukan Competency Architecture
Organisasi kemudian menentukan struktur kompetensi.
Misalnya:
Core Competencies
Berlaku untuk seluruh organisasi.
Leadership Competencies
Berlaku untuk pemimpin.
Functional Competencies
Berlaku berdasarkan fungsi.
Technical Competencies
Berlaku berdasarkan pekerjaan atau bidang tertentu.
Arsitektur ini harus cukup sederhana agar dapat digunakan.
Framework yang terlalu kompleks sering kali sulit diimplementasikan.
Tahap 4: Mendefinisikan Setiap Kompetensi
Setiap kompetensi harus memiliki definisi yang jelas.
Definisi yang baik:
- menjelaskan inti kompetensi;
- membedakan dengan kompetensi lain;
- relevan dengan konteks organisasi;
- tidak terlalu luas.
Organisasi perlu menghindari definisi yang memiliki terlalu banyak konsep sekaligus.
Tahap 5: Menyusun Behavioral Indicators
Ini merupakan salah satu tahap paling penting.
Behavioral Indicators harus menjelaskan:
Apa yang dilakukan seseorang ketika ia menunjukkan kompetensi tersebut?
Gunakan kata kerja yang menggambarkan perilaku.
Contoh:
Kurang efektif:
Memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Lebih efektif:
Menyampaikan informasi secara jelas dan menyesuaikan cara komunikasi dengan karakteristik audiens.
Indikator perilaku yang baik membantu assessment dan development menjadi lebih objektif.
Tahap 6: Menentukan Proficiency Level
Setiap level harus memiliki perbedaan yang jelas.
Perbedaan dapat dibangun berdasarkan lima dimensi:
1. Scope
Seberapa luas area tanggung jawab.
2. Complexity
Seberapa kompleks masalah yang dihadapi.
3. Autonomy
Seberapa mandiri individu dalam menerapkan kompetensi.
4. Impact
Seberapa besar dampak dari tindakan individu.
5. Influence
Seberapa luas individu memengaruhi orang lain.
Dengan pendekatan ini, perbedaan level menjadi lebih logis dan konsisten.
Tahap 7: Memvalidasi dengan Stakeholder
Kamus Kompetensi tidak seharusnya hanya dibuat oleh HR.
Perlu dilakukan validasi dengan:
- Executive Management;
- Business Leaders;
- Functional Leaders;
- HR;
- Subject Matter Experts.
Tujuannya memastikan kompetensi benar-benar relevan dengan kebutuhan pekerjaan dan bisnis.
Tahap 8: Menghubungkan dengan Sistem HR
Kamus Kompetensi harus diintegrasikan ke dalam sistem Human Capital.
Misalnya:
Recruitment
Untuk menentukan kompetensi kandidat.
Assessment
Untuk mengukur tingkat kompetensi.
Learning & Development
Untuk menentukan kebutuhan pengembangan.
Career Development
Untuk menentukan readiness menuju peran berikutnya.
Succession Planning
Untuk mengidentifikasi capability calon successor.
Dengan demikian, Kamus Kompetensi menjadi bagian dari Human Capital Architecture.
Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Penyusunan Kamus Kompetensi
1. Terlalu Banyak Kompetensi
Organisasi kadang memasukkan hampir semua kemampuan ke dalam framework.
Akibatnya, Kamus Kompetensi menjadi terlalu kompleks.
Lebih baik memilih kompetensi yang benar-benar penting.
2. Menggunakan Kompetensi yang Tidak Relevan dengan Strategi
Tidak semua organisasi membutuhkan kompetensi yang sama.
Framework harus mempertimbangkan:
- industri;
- business model;
- strategi;
- budaya;
- tingkat kematangan organisasi;
- kebutuhan masa depan.
3. Behavioral Indicators Terlalu Umum
Contoh:
Memiliki kemampuan leadership yang baik.
Pernyataan tersebut sulit dinilai.
Indikator harus menjelaskan perilaku yang lebih spesifik.
4. Level Kompetensi Tidak Memiliki Perbedaan Jelas
Kesalahan yang sering terjadi adalah setiap level hanya ditambah kata:
- memahami;
- mampu;
- sangat mampu;
- sangat ahli.
Ini tidak cukup.
Setiap level harus memiliki perbedaan dalam scope, complexity, impact, autonomy, atau influence.
5. Tidak Diintegrasikan dengan Sistem HR
Kamus Kompetensi yang hanya disimpan sebagai dokumen tidak akan memberikan nilai.
Implementasi harus dihubungkan dengan sistem pengelolaan manusia.
Kamus Kompetensi sebagai Strategic Capability System
Di masa lalu, Competency Dictionary sering dipandang sebagai alat HR.
Ke depan, pendekatan ini perlu berkembang.
Organisasi perlu melihat Kamus Kompetensi sebagai bagian dari Strategic Capability System.
Pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya:
“Kompetensi apa yang dibutuhkan saat ini?”
Tetapi juga:
“Capability apa yang akan menentukan keberhasilan bisnis dalam tiga hingga lima tahun mendatang?”
Perubahan teknologi, AI, automation, dan perubahan model bisnis akan terus mengubah kebutuhan kompetensi.
Karena itu, Kamus Kompetensi tidak seharusnya bersifat statis.
Organisasi perlu melakukan review secara berkala terhadap:
- strategic priorities;
- future skills;
- technology changes;
- workforce transformation;
- business model;
- leadership requirements.
Framework: Strategy to Competency
Agar Kamus Kompetensi memberikan nilai strategis, organisasi dapat menggunakan alur berikut:
BUSINESS STRATEGY
↓
STRATEGIC PRIORITIES
↓
ORGANIZATIONAL CAPABILITIES
↓
CRITICAL ROLES
↓
REQUIRED COMPETENCIES
↓
KAMUS KOMPETENSI
↓
COMPETENCY ASSESSMENT
↓
CAPABILITY DEVELOPMENT
↓
BUSINESS PERFORMANCE
Framework ini membantu organisasi menghindari penyusunan Kamus Kompetensi yang hanya berorientasi pada administrasi HR.
Kompetensi harus menjadi bagian dari sistem untuk membangun kemampuan organisasi.
Kesimpulan
Kamus Kompetensi adalah fondasi penting dalam membangun sistem Human Capital yang terintegrasi.
Dokumen ini memberikan definisi, standar perilaku, dan tingkat penguasaan yang membantu organisasi menciptakan pemahaman bersama mengenai capability yang dibutuhkan.
Kamus Kompetensi yang efektif harus:
- selaras dengan Business Strategy;
- didasarkan pada kebutuhan Organizational Capability;
- memiliki Competency Architecture yang jelas;
- menggunakan definisi yang mudah dipahami;
- memiliki Behavioral Indicators yang dapat diamati;
- memiliki Proficiency Level yang berbeda secara jelas;
- divalidasi oleh stakeholder;
- terintegrasi dengan sistem Human Capital.
Yang terpenting, organisasi tidak boleh memandang Kamus Kompetensi hanya sebagai dokumen HR.
Kamus Kompetensi harus menjadi alat strategis untuk menerjemahkan strategi bisnis menjadi capability dan perilaku yang dibutuhkan organisasi.
Ketika dirancang dan diimplementasikan dengan tepat, Kamus Kompetensi dapat membantu perusahaan membangun hubungan yang lebih kuat antara:
Strategy → Capability → Competency → People Development → Performance → Business Impact
Inilah nilai strategis sebenarnya dari sebuah Kamus Kompetensi.
FAQ tentang Kamus Kompetensi
Apa yang dimaksud dengan Kamus Kompetensi?
Kamus Kompetensi adalah dokumen terstruktur yang berisi nama kompetensi, definisi, indikator perilaku, dan tingkat penguasaan kompetensi yang digunakan sebagai standar dalam organisasi.
Apa perbedaan Kamus Kompetensi dan Competency Framework?
Competency Framework menjelaskan struktur atau kelompok kompetensi yang digunakan organisasi. Kamus Kompetensi menjelaskan secara lebih rinci definisi, perilaku, dan level dari setiap kompetensi.
Apa saja isi Kamus Kompetensi?
Secara umum, Kamus Kompetensi berisi nama kompetensi, definisi, tujuan atau relevansi, Behavioral Indicators, dan Proficiency Level.
Berapa jumlah level yang ideal dalam Kamus Kompetensi?
Tidak ada jumlah yang berlaku untuk semua organisasi. Perusahaan dapat menggunakan empat, lima, atau lebih level sesuai kebutuhan. Yang paling penting adalah setiap level memiliki perbedaan yang jelas dan dapat diterapkan secara konsisten.
Apakah Kamus Kompetensi berlaku untuk semua jabatan?
Tidak selalu. Sebagian kompetensi dapat berlaku bagi seluruh karyawan sebagai Core Competencies. Kompetensi lainnya dapat berbeda berdasarkan level kepemimpinan, fungsi, pekerjaan, atau kebutuhan teknis tertentu.
Siapa yang sebaiknya menyusun Kamus Kompetensi?
HR dapat memimpin proses penyusunan, tetapi sebaiknya melibatkan Executive Management, Business Leaders, Functional Leaders, dan Subject Matter Experts agar kompetensi relevan dengan kebutuhan bisnis dan pekerjaan.
Mengapa Behavioral Indicators penting?
Behavioral Indicators membantu organisasi menjelaskan bagaimana kompetensi terlihat dalam perilaku kerja. Dengan demikian, assessment dan development dapat dilakukan dengan standar yang lebih jelas dan konsisten.
Tentang HRD Forum
HRD Forum adalah Strategic HR Consulting & Organization Development yang telah berkiprah di Indonesia sejak 2004, membantu organisasi mengembangkan Human Capital yang unggul melalui layanan konsultasi, pelatihan, dan sertifikasi profesional.
Untuk informasi lebih lanjut atau kebutuhan public & inhouse training, konsultasi, pendampingan, dan pengerjaan project HR, silakan menghubungi Admin HRD Forum melalui WhatsApp 0818-715-595, 0878-8100-0100, 0878-8188-8899, atau email Event@HRD-Forum.com.