Mengapa Ada Orang yang Sibuk Meratapi Nasib, Sementara yang Lain Sibuk Membangun Masa Depan?
Ada orang yang setiap hari sibuk menceritakan betapa tidak adilnya hidup.
Tentang gaji yang kecil.
Tentang atasan yang tidak menghargai.
Tentang perusahaan yang tidak memberikan kesempatan.
Tentang rekan kerja yang lebih dulu sukses.
Tentang keluarga yang tidak mendukung.
Tentang keadaan yang tidak berpihak.
Dan anehnya, semakin sering ia menceritakan masalahnya, semakin kuat identitasnya sebagai korban.
Di sisi lain, ada orang yang menghadapi masalah yang tidak kalah berat.
Tetapi mereka memilih melakukan sesuatu yang berbeda.
Mereka belajar.
Mereka menabung.
Mereka membangun kompetensi.
Mereka memperbaiki kesehatan.
Mereka memperluas network.
Mereka mencoba lagi.
Gagal, evaluasi.
Gagal lagi, belajar.
Lalu mencoba lagi.
Keduanya sama-sama menghadapi hidup.
Tetapi mengapa respons mereka bisa begitu berbeda?
Mungkin masalahnya bukan pada nasib.
Ini bagian yang agak tidak nyaman.
Kita sering mengira bahwa perbedaan antara orang yang berkembang dan orang yang terus berada di tempat yang sama terutama disebabkan oleh kesempatan.
Tentu saja, kesempatan penting.
Latar belakang penting.
Kondisi ekonomi penting.
Lingkungan penting.
Akses terhadap pendidikan dan network juga penting.
Kita tidak boleh berpura-pura bahwa semua orang memulai dari garis yang sama.
Tetapi ada sesuatu yang sering luput dari pembicaraan:
Apa yang dilakukan seseorang terhadap kondisi yang ia miliki.
Dua orang bisa mendapatkan masalah yang sama.
Yang satu bertanya:
“Mengapa ini terjadi kepada saya?”
Yang lain bertanya:
“Apa yang bisa saya lakukan dari posisi saya sekarang?”
Pertanyaannya terlihat sederhana.
Tetapi arah hidup yang dihasilkan bisa sangat berbeda.
Karena pertanyaan pertama mencari alasan.
Sedangkan pertanyaan kedua mencari ruang untuk bertindak.
Mengeluh bisa terasa produktif.
Ini yang menarik.
Mengeluh memberikan sesuatu yang sangat manusiawi:
kelegaan.
Ketika kita mengatakan,
“Atasan saya memang tidak adil.”
“Perusahaan ini memang tidak menghargai orang.”
“Saya memang tidak punya kesempatan.”
“Orang lain lebih beruntung.”
Kita merasa telah menjelaskan mengapa hidup kita berada di posisi sekarang.
Dan ketika penjelasan itu terasa masuk akal, kita tidak perlu lagi menghadapi pertanyaan yang lebih sulit:
“Lalu, apa yang akan saya lakukan?”
Inilah jebakannya.
Penjelasan tentang masalah kadang-kadang terasa seperti penyelesaian masalah.
Padahal belum tentu.
Kita bisa sangat pandai menjelaskan mengapa hidup kita sulit tanpa pernah benar-benar melakukan sesuatu untuk membuat hidup kita berbeda.
Tetapi bukankah mengeluh itu wajar?
Tentu.
Manusia bukan mesin.
Ada masa ketika kita lelah.
Ada masa ketika kita kecewa.
Ada masa ketika kita marah.
Ada masa ketika kita ingin didengar.
Bahkan orang yang sangat disiplin pun bisa mengalami hari yang buruk.
Jadi persoalannya bukan:
“Apakah kita boleh mengeluh?”
Persoalannya adalah:
“Berapa lama kita tinggal di dalam keluhan itu?”
Karena ada perbedaan besar antara:
mengeluh karena sedang terluka
dan
menjadikan keluhan sebagai identitas.
Yang pertama manusiawi.
Yang kedua bisa menjadi perangkap.
Ada perbedaan antara “saya sedang mengalami masalah” dan “saya adalah korban keadaan.”
Kalimat pertama masih membuka kemungkinan perubahan.
Kalimat kedua sering kali menutupnya.
“Saya sedang kesulitan mendapatkan pekerjaan.”
Berbeda dengan:
“Saya memang tidak pernah punya kesempatan.”
“Saya belum mendapatkan promosi.”
Berbeda dengan:
“Di perusahaan ini orang seperti saya memang tidak akan pernah maju.”
“Saya belum memiliki kompetensi yang dibutuhkan.”
Berbeda dengan:
“Saya tidak mungkin bisa bersaing dengan mereka.”
Perhatikan perbedaannya.
Kalimat pertama menggambarkan situasi.
Kalimat kedua mulai membentuk identitas.
Dan ketika sebuah keadaan berubah menjadi identitas, manusia sering kali mulai mempertahankan identitas tersebut—bahkan tanpa sadar.
Orang yang membangun masa depan juga punya masalah.
Ini mungkin bagian yang paling sering kita lupakan.
Orang yang disiplin bukan berarti hidupnya lebih mudah.
Orang yang konsisten bukan berarti tidak pernah kecewa.
Orang yang sukses bukan berarti tidak pernah merasa takut.
Mereka juga pernah ditolak.
Mereka juga pernah gagal.
Mereka juga pernah merasa tidak dihargai.
Mereka juga pernah melihat orang lain melaju lebih cepat.
Bedanya mungkin bukan pada apa yang mereka rasakan.
Melainkan pada apa yang mereka lakukan setelah merasakannya.
Ada orang yang kecewa lalu berhenti.
Ada orang yang kecewa lalu belajar.
Ada orang yang gagal lalu menyalahkan keadaan.
Ada orang yang gagal lalu bertanya:
“Apa yang harus saya ubah?”
Ada orang yang kehilangan kesempatan lalu menunggu kesempatan berikutnya.
Ada orang yang kehilangan kesempatan lalu mulai menciptakan kapasitas agar ketika kesempatan berikutnya datang, ia lebih siap.
Masa depan dibangun oleh hal-hal yang sering terlihat membosankan.
Kita senang melihat hasil.
Jarang melihat proses.
Kita melihat seseorang mendapatkan promosi.
Tetapi tidak melihat bertahun-tahun ia belajar.
Kita melihat seseorang membangun bisnis.
Tetapi tidak melihat ratusan malam ketika ia masih bekerja ketika orang lain sudah tidur.
Kita melihat seseorang memiliki kompetensi tinggi.
Tetapi tidak melihat ribuan jam ketika ia merasa bodoh saat mempelajari sesuatu yang baru.
Kita melihat “kesuksesan”.
Padahal sebagian besar masa depan dibangun oleh aktivitas yang sangat tidak menarik untuk diceritakan:
Belajar.
Membaca.
Berlatih.
Menabung.
Bangun lebih awal.
Menyelesaikan pekerjaan meskipun tidak ada yang memuji.
Menolak distraksi.
Menjaga komitmen.
Mengulang sesuatu yang sama berkali-kali.
Tidak viral.
Tidak dramatis.
Tidak mendapatkan tepuk tangan.
Tetapi dilakukan.
Lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Konsistensi memang sering terlihat biasa sampai hasilnya menjadi luar biasa.
Yang menarik: keluhan sering membutuhkan penonton. Disiplin sering tidak.
Orang yang sedang mengeluh biasanya ingin didengar.
Itu wajar.
Tetapi orang yang sedang membangun masa depan sering kali bekerja dalam keheningan.
Tidak semua proses membutuhkan penonton.
Tidak semua perjuangan membutuhkan pengakuan.
Tidak semua kemajuan perlu diumumkan.
Mungkin karena ada pergeseran fokus:
Dari:
“Apakah orang lain melihat usaha saya?”
menjadi:
“Apakah usaha saya benar-benar membawa saya ke tempat yang saya tuju?”
Pertanyaan kedua jauh lebih sulit.
Tetapi jauh lebih berguna.
Lalu, apakah semua orang yang bekerja keras pasti berhasil?
Tidak.
Dan kita harus jujur tentang ini.
Disiplin bukan jaminan kesuksesan.
Konsistensi bukan tiket otomatis menuju keberhasilan.
Ada faktor yang berada di luar kendali manusia.
Ekonomi.
Kesehatan.
Kondisi keluarga.
Krisis.
Kesempatan.
Timing.
Bahkan keberuntungan.
Karena itu, mengatakan “kalau mau sukses, cukup kerja keras” juga terlalu sederhana.
Tetapi ada satu hal yang tetap penting:
Kita tidak selalu bisa mengendalikan hasil. Tetapi kita masih bisa memperbesar kapasitas kita untuk menghadapi hasil tersebut.
Itulah mengapa belajar tetap penting.
Membangun kompetensi tetap penting.
Menjaga disiplin tetap penting.
Memperluas network tetap penting.
Menjadi lebih adaptif tetap penting.
Bukan karena semua itu menjamin kita menang.
Tetapi karena tanpa membangun kapasitas, kita bahkan mungkin tidak siap ketika peluang datang.
Jadi, mungkin pertanyaannya bukan: “Mengapa hidup saya seperti ini?”
Pertanyaan itu valid.
Tetapi jangan berhenti di sana.
Mungkin pertanyaan yang lebih produktif adalah:
“Dari kondisi saya sekarang, apa yang masih berada dalam kendali saya?”
Lalu pertanyaan berikutnya:
“Kemampuan apa yang perlu saya bangun?”
“Kebiasaan apa yang perlu saya hentikan?”
“Apa yang selama ini saya salahkan, padahal sebenarnya harus saya tanggung sebagai tanggung jawab pribadi?”
Dan yang paling sulit:
“Jika tidak ada yang datang untuk menyelamatkan saya, apa yang harus mulai saya bangun sendiri?”
Pertanyaan terakhir mungkin terasa keras.
Tetapi terkadang pertanyaan yang keras justru lebih berguna daripada jawaban yang membuat kita nyaman.
Jangan salah memahami pesan ini.
Ini bukan ajakan untuk menghakimi orang yang sedang kesulitan.
Bukan pula mengatakan bahwa semua orang yang mengeluh adalah malas.
Kita tidak pernah tahu seluruh perjuangan seseorang.
Ada orang yang diam-diam sedang bertarung dengan sesuatu yang tidak kita lihat.
Karena itu, empati tetap penting.
Tetapi empati tidak harus berarti mempertahankan seseorang di dalam ketidakberdayaan.
Kadang-kadang bentuk kepedulian terbaik bukan terus mengatakan:
“Kasihan kamu.”
Melainkan membantu seseorang kembali bertanya:
“Apa yang masih bisa kamu lakukan?”
Karena dikasihani mungkin membuat seseorang merasa lebih baik hari ini.
Tetapi rasa memiliki kendali atas hidup sendiri bisa mengubah hari-hari berikutnya.
Dua orang. Dua pertanyaan.
Orang pertama berkata:
“Mengapa hidup selalu tidak adil kepada saya?”
Orang kedua berkata:
“Kalau memang tidak adil, apa yang bisa saya bangun agar hidup saya tetap bergerak?”
Saya tidak yakin hidup selalu memberikan jawaban yang adil.
Tetapi saya semakin percaya bahwa ada perbedaan besar antara menunggu keadaan berubah dan mempersiapkan diri agar ketika keadaan berubah, kita siap mengambil kesempatan.
Dan mungkin di situlah perbedaan yang sering tidak terlihat.
Bukan antara orang yang punya masalah dan orang yang tidak punya masalah.
Tetapi antara orang yang menjadikan masalah sebagai alasan untuk berhenti, dan orang yang menjadikannya alasan untuk bertumbuh.
Pertanyaannya sekarang:
Anda sedang sibuk menjelaskan mengapa hidup Anda belum berubah?
Atau…
sedang sibuk membangun kemampuan yang akan membuat hidup Anda berbeda?
Karena masa depan jarang dibangun oleh satu keputusan besar.
Lebih sering, ia dibangun oleh keputusan-keputusan kecil yang terus dilakukan ketika tidak ada yang melihat.
Keluhan mungkin menjelaskan masa lalu.
Tetapi disiplinlah yang mulai membentuk masa depan.