Memahami KPI dan Contoh-contoh KPI Departemen

0

KPI Key Performance Indicators

KPI atau Key Performance Indicators adalah metrik atau indikator kinerja kunci yang digunakan untuk mengukur sejauh mana suatu organisasi, tim, atau individu mencapai tujuan bisnis atau operasional yang telah ditetapkan. KPI umumnya digunakan untuk mengukur kinerja dalam hal efisiensi, efektivitas, kecepatan, akurasi, dan kualitas. KPI yang baik harus terukur, dapat diukur secara konsisten, terkait dengan tujuan bisnis, dan dapat memberikan wawasan yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan. KPI sering digunakan di berbagai jenis organisasi, termasuk perusahaan, pemerintah, dan organisasi nirlaba.

Siapa yang membuat KPI?

Pembuatan KPI di perusahaan biasanya melibatkan berbagai pihak, tergantung pada ukuran dan struktur organisasi. Berikut adalah beberapa pihak yang biasanya terlibat dalam pembuatan KPI di perusahaan:

  • Manajemen senior: Mereka biasanya bertanggung jawab untuk menetapkan visi, misi, dan tujuan bisnis perusahaan. Oleh karena itu, mereka memiliki peran penting dalam menentukan KPI yang relevan dan terukur untuk mencapai tujuan bisnis perusahaan.
  • Tim manajemen fungsional: Tim manajemen di berbagai departemen seperti operasi, keuangan, pemasaran, sumber daya manusia, dan teknologi informasi juga dapat membantu dalam menentukan KPI yang relevan dengan tujuan mereka masing-masing.
  • Karyawan: Karyawan di berbagai level dapat berkontribusi pada pembuatan KPI dengan memberikan masukan tentang pekerjaan mereka dan tujuan yang ingin dicapai.
  • Ahli: Ahli di berbagai bidang seperti analisis data, keuangan, dan manajemen bisnis dapat membantu dalam menentukan KPI yang terukur dan memberikan wawasan yang berguna untuk pengambilan keputusan.

Dalam praktiknya, perusahaan sering membentuk tim khusus yang terdiri dari berbagai pihak untuk mengembangkan dan mengelola KPI secara sistematis. Tim tersebut biasanya dipimpin oleh manajemen senior dan melibatkan berbagai pihak di perusahaan.

Membuat itu Tugas HR?

Tidak, membuat KPI bukan hanya tugas dan kewajiban dari HR atau departemen sumber daya manusia. Meskipun HR dapat berperan dalam membantu menentukan dan mengelola KPI terkait karyawan, pembuatan KPI adalah tanggung jawab bersama antara berbagai departemen dan level di perusahaan.

Sebagai contoh, departemen operasi dapat membantu menentukan KPI yang terkait dengan efisiensi produksi, sementara departemen pemasaran dapat membantu menentukan KPI yang terkait dengan pemasaran dan penjualan produk. Manajemen senior juga harus terlibat dalam menetapkan tujuan bisnis dan menentukan KPI yang relevan untuk mencapainya.

Pembuatan KPI harus melibatkan berbagai pihak di perusahaan dan harus didasarkan pada tujuan bisnis yang jelas. HR dapat membantu dalam mengembangkan KPI yang terkait dengan kinerja karyawan dan pengembangan sumber daya manusia, namun pembuatan KPI secara keseluruhan adalah tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa perusahaan mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.

Kendala Dalam Membuat KPI

Berikut adalah beberapa kendala yang mungkin dihadapi perusahaan dalam pembuatan KPI:

  • Kurangnya pemahaman tentang tujuan bisnis:

Penting untuk memastikan bahwa KPI yang ditetapkan relevan dengan tujuan bisnis perusahaan. Kurangnya pemahaman tentang tujuan bisnis dapat menyebabkan perusahaan menetapkan KPI yang tidak relevan atau tidak sesuai dengan tujuan bisnis perusahaan.

  • Kesulitan dalam mengukur dan memonitor KPI:

KPI yang baik harus terukur dan dapat dipantau secara konsisten. Namun, terkadang sulit untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk mengukur KPI tersebut secara akurat. Selain itu, jika perusahaan tidak memiliki sistem yang tepat untuk memonitor KPI, maka perusahaan mungkin kesulitan untuk mengetahui apakah KPI tersebut tercapai atau tidak.

  • Terlalu banyak atau terlalu sedikit KPI:

Terlalu banyak KPI dapat membuat perusahaan sulit untuk memantau dan menganalisis data yang relevan, sementara terlalu sedikit KPI dapat menghilangkan aspek-aspek penting dari tujuan bisnis perusahaan.

  • Ketidaksesuaian antara KPI dengan tugas dan tanggung jawab karyawan:

KPI yang ditetapkan harus relevan dengan tugas dan tanggung jawab karyawan. Jika KPI tidak sesuai dengan tugas dan tanggung jawab karyawan, maka karyawan mungkin merasa sulit untuk mencapai target tersebut.

  • Kurangnya komunikasi dan dukungan dari manajemen:

Penting untuk melibatkan manajemen dalam pembuatan KPI dan memastikan bahwa mereka mendukung dan memahami tujuan dan metrik yang ditetapkan. Kurangnya komunikasi dan dukungan dari manajemen dapat membuat karyawan tidak terlibat dalam pencapaian KPI dan mengurangi efektivitas program KPI tersebut.

  • Perubahan tujuan dan kondisi bisnis yang tidak terduga:

Kondisi bisnis dapat berubah dengan cepat, dan perusahaan mungkin perlu menyesuaikan KPI sesuai dengan perubahan tersebut. Perubahan tujuan bisnis atau kondisi bisnis yang tidak terduga dapat menyebabkan KPI menjadi tidak relevan atau tidak efektif dalam mencapai tujuan bisnis perusahaan.

Memiliki KPI Berkualitas

Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan oleh HR untuk memastikan perusahaan memiliki KPI yang berkualitas:

  • Menetapkan tujuan bisnis yang jelas:

HR dapat berkolaborasi dengan manajemen senior untuk menetapkan tujuan bisnis yang jelas dan terukur, yang dapat menjadi dasar untuk menetapkan KPI yang relevan.

  • Melibatkan berbagai departemen dan level di perusahaan:

HR harus berkolaborasi dengan berbagai departemen dan level di perusahaan, termasuk manajemen senior, departemen operasi, dan departemen pemasaran, untuk menetapkan KPI yang relevan dengan tujuan bisnis perusahaan.

  • Mengidentifikasi KPI yang terukur dan relevan:

HR dapat membantu dalam mengidentifikasi KPI yang terukur dan relevan dengan tujuan bisnis perusahaan, dan memastikan bahwa KPI tersebut dapat dipantau dan diukur secara konsisten.

  • Mengembangkan sistem pengukuran dan pelaporan KPI:

HR dapat membantu dalam mengembangkan sistem pengukuran dan pelaporan KPI yang dapat membantu perusahaan untuk memantau dan menganalisis KPI secara efektif.

  • Melakukan pengujian dan evaluasi KPI:

HR dapat membantu dalam melakukan pengujian dan evaluasi KPI untuk memastikan bahwa KPI tersebut efektif dalam mencapai tujuan bisnis perusahaan dan dapat diukur secara akurat.

  • Memberikan dukungan dan pelatihan kepada karyawan:

HR dapat memberikan dukungan dan pelatihan kepada karyawan terkait dengan KPI dan bagaimana mereka dapat berkontribusi dalam pencapaian KPI perusahaan.

Dengan melakukan hal-hal di atas, HR dapat membantu perusahaan untuk memiliki KPI yang berkualitas, yang dapat membantu perusahaan mencapai tujuan bisnisnya secara efektif dan efisien.

Contoh KPI Departemen HR

Berikut adalah beberapa contoh KPI dari departemen HR:

  • Tingkat kepuasan karyawan:

KPI ini mengukur tingkat kepuasan karyawan terhadap kondisi kerja, lingkungan kerja, dan kinerja perusahaan secara keseluruhan. KPI ini dapat diukur dengan menggunakan survei kepuasan karyawan dan dapat membantu perusahaan untuk memperbaiki kondisi kerja dan meningkatkan produktivitas karyawan.

  • Waktu rata-rata perekrutan:

KPI ini mengukur waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk merekrut karyawan baru. KPI ini dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi efektivitas strategi perekrutan dan memastikan bahwa perusahaan dapat merekrut karyawan yang berkualitas secara efisien.

  • Rasio turnover karyawan:

KPI ini mengukur rasio jumlah karyawan yang keluar dari perusahaan dibandingkan dengan jumlah karyawan total dalam periode tertentu. KPI ini dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi efektivitas strategi pengembangan karyawan dan retensi, serta memastikan bahwa perusahaan dapat mempertahankan karyawan yang berkualitas.

  • Biaya rata-rata pelatihan per karyawan:

KPI ini mengukur biaya rata-rata yang dibutuhkan untuk memberikan pelatihan kepada setiap karyawan. KPI ini dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi efektivitas program pelatihan dan pengembangan, serta memastikan bahwa perusahaan dapat memberikan pelatihan yang berkualitas dengan biaya yang efisien.

  • Kepatuhan terhadap peraturan dan kebijakan:

KPI ini mengukur tingkat kepatuhan karyawan terhadap peraturan dan kebijakan perusahaan, serta kepatuhan perusahaan terhadap peraturan dan regulasi yang berlaku. KPI ini dapat membantu perusahaan untuk memastikan bahwa perusahaan beroperasi sesuai dengan aturan dan regulasi yang berlaku, dan mengurangi risiko hukum atau reputasi.

  • Jumlah karyawan per Bagian HR:

KPI ini mengukur rasio jumlah karyawan per bagian HR. KPI ini dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi efisiensi departemen HR dan memastikan bahwa departemen HR dapat menangani kebutuhan karyawan dengan efisien.

Contoh KPI di atas adalah contoh umum yang dapat digunakan oleh departemen HR. Namun, perusahaan dapat menetapkan KPI yang lebih spesifik dan relevan dengan tujuan bisnis perusahaan dan kebutuhan departemen HR masing-masing.

Contoh KPI Departemen Marketing

Berikut adalah beberapa contoh KPI dari departemen marketing:

  • Jumlah prospek baru:

KPI ini mengukur jumlah prospek baru yang berhasil dihubungi dan diubah menjadi pelanggan potensial. KPI ini dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi efektivitas strategi pemasaran dan penjualan, serta memastikan bahwa perusahaan dapat menarik dan menghasilkan pelanggan potensial yang berkualitas.

  • Konversi pelanggan:

KPI ini mengukur persentase pelanggan potensial yang diubah menjadi pelanggan yang sebenarnya. KPI ini dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi efektivitas strategi penjualan dan pemasaran, serta memastikan bahwa perusahaan dapat menghasilkan penjualan yang tinggi dari pelanggan potensial yang berkualitas.

  • Rasio biaya-penjualan:

KPI ini mengukur rasio antara biaya pemasaran dan penjualan yang dihasilkan. KPI ini dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi efisiensi strategi pemasaran dan memastikan bahwa perusahaan dapat mencapai penjualan yang tinggi dengan biaya yang efisien.

  • Tingkat retensi pelanggan:

KPI ini mengukur persentase pelanggan yang tetap setia dan kembali melakukan pembelian. KPI ini dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi efektivitas strategi pemasaran dan penjualan jangka panjang, serta memastikan bahwa perusahaan dapat mempertahankan pelanggan yang loyal.

  • Jumlah pengunjung situs web:

KPI ini mengukur jumlah pengunjung situs web perusahaan. KPI ini dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi efektivitas strategi pemasaran digital dan memastikan bahwa perusahaan dapat menarik jumlah pengunjung yang berkualitas ke situs web perusahaan.

  • ROI kampanye pemasaran:

KPI ini mengukur nilai pengembalian investasi (ROI) dari kampanye pemasaran tertentu. KPI ini dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi efektivitas kampanye pemasaran dan memastikan bahwa perusahaan dapat memaksimalkan pengembalian investasi dari kampanye pemasaran yang dilakukan.

Contoh KPI di atas adalah contoh umum yang dapat digunakan oleh departemen marketing. Namun, perusahaan dapat menetapkan KPI yang lebih spesifik dan relevan dengan tujuan bisnis perusahaan dan kebutuhan departemen marketing masing-masing.

Contoh KPI Departemen Sales

Berikut adalah beberapa contoh KPI dari departemen Sales:

  • Jumlah penjualan:

KPI ini mengukur jumlah produk atau layanan yang berhasil dijual oleh tim penjualan selama periode waktu tertentu. KPI ini dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi kinerja tim penjualan dan memastikan bahwa perusahaan dapat mencapai target penjualan yang telah ditetapkan.

  • Konversi prospek menjadi pelanggan:

KPI ini mengukur persentase prospek atau pelanggan potensial yang diubah menjadi pelanggan yang sebenarnya. KPI ini dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi efektivitas strategi penjualan dan memastikan bahwa tim penjualan dapat menghasilkan penjualan yang tinggi dari pelanggan potensial yang berkualitas.

  • Rata-rata ukuran penjualan:

KPI ini mengukur rata-rata nilai penjualan yang berhasil dicapai oleh tim penjualan selama periode waktu tertentu. KPI ini dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi kinerja tim penjualan dan memastikan bahwa perusahaan dapat mencapai target penjualan yang ditetapkan.

  • Rasio peluang-penjualan:

KPI ini mengukur persentase peluang penjualan yang berhasil dikonversi menjadi penjualan. KPI ini dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi efektivitas strategi penjualan dan memastikan bahwa tim penjualan dapat menghasilkan penjualan yang tinggi dari peluang penjualan yang ada.

  • Penjualan baru vs. penjualan ulang:

KPI ini mengukur persentase penjualan baru vs. penjualan ulang yang berhasil dicapai oleh tim penjualan selama periode waktu tertentu. KPI ini dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi efektivitas strategi penjualan dan memastikan bahwa tim penjualan dapat mempertahankan pelanggan yang loyal serta mencari pelanggan baru.

  • Waktu penjualan:

KPI ini mengukur waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses penjualan, mulai dari prospek hingga penutupan penjualan. KPI ini dapat membantu perusahaan untuk mengevaluasi efisiensi proses penjualan dan memastikan bahwa tim penjualan dapat menyelesaikan proses penjualan dengan cepat dan efisien.

Contoh KPI di atas adalah contoh umum yang dapat digunakan oleh departemen Sales. Namun, perusahaan dapat menetapkan KPI yang lebih spesifik dan relevan dengan tujuan bisnis perusahaan dan kebutuhan departemen Sales masing-masing.

Contoh KPI Departemen Finance

Berikut adalah beberapa contoh KPI dari departemen Finance:

  • Profitabilitas:

KPI ini mengukur laba bersih perusahaan dalam periode waktu tertentu. KPI ini dapat membantu departemen Finance untuk mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan dan memastikan bahwa perusahaan dapat mencapai tujuan keuangan yang telah ditetapkan.

  • Rasio hutang dan modal sendiri (debt-to-equity ratio):

KPI ini mengukur jumlah hutang yang dimiliki oleh perusahaan dibandingkan dengan modal sendiri. KPI ini dapat membantu departemen Finance untuk mengevaluasi risiko keuangan perusahaan dan memastikan bahwa perusahaan tidak terlalu bergantung pada hutang.

  • Arus kas operasi:

KPI ini mengukur jumlah uang kas yang dihasilkan dari kegiatan operasional perusahaan dalam periode waktu tertentu. KPI ini dapat membantu departemen Finance untuk mengevaluasi kesehatan keuangan perusahaan dan memastikan bahwa perusahaan dapat memenuhi kewajiban keuangan yang ada.

  • Rasio profitabilitas terhadap penjualan:

KPI ini mengukur persentase laba bersih yang dihasilkan oleh perusahaan dari penjualan produk atau layanan. KPI ini dapat membantu departemen Finance untuk mengevaluasi efektivitas strategi bisnis perusahaan dan memastikan bahwa perusahaan dapat mencapai tingkat profitabilitas yang diinginkan.

  • Rasio pengeluaran operasional terhadap pendapatan:

KPI ini mengukur persentase pengeluaran operasional perusahaan terhadap pendapatan. KPI ini dapat membantu departemen Finance untuk mengevaluasi efisiensi biaya perusahaan dan memastikan bahwa perusahaan dapat mengelola pengeluaran dengan baik.

  • Return on Investment (ROI):

KPI ini mengukur persentase keuntungan yang dihasilkan dari investasi yang dilakukan oleh perusahaan dalam periode waktu tertentu. KPI ini dapat membantu departemen Finance untuk mengevaluasi kinerja investasi perusahaan dan memastikan bahwa perusahaan dapat menghasilkan keuntungan yang diinginkan dari investasi yang dilakukan.

Contoh KPI di atas adalah contoh umum yang dapat digunakan oleh departemen Finance. Namun, perusahaan dapat menetapkan KPI yang lebih spesifik dan relevan dengan tujuan bisnis perusahaan dan kebutuhan departemen Finance masing-masing.

Contoh KPI Departemen General Affairs

Berikut adalah beberapa contoh KPI dari departemen General Affairs:

  • Tingkat Kepuasan Karyawan:

KPI ini mengukur tingkat kepuasan karyawan terhadap pelayanan yang diberikan oleh departemen General Affairs seperti pelayanan katering, kebersihan dan keamanan. KPI ini dapat membantu departemen General Affairs untuk mengevaluasi kualitas layanan dan memastikan bahwa kebutuhan karyawan terpenuhi dengan baik.

  • Efektivitas Pelayanan:

KPI ini mengukur efektivitas pelayanan yang diberikan oleh departemen General Affairs seperti pelayanan katering, kebersihan dan keamanan. KPI ini dapat membantu departemen General Affairs untuk mengevaluasi efektivitas operasional dan memastikan bahwa pelayanan yang diberikan sesuai dengan standar yang ditetapkan.

  • Rasio Pengeluaran Fasilitas Terhadap Pendapatan:

KPI ini mengukur persentase pengeluaran departemen General Affairs terhadap pendapatan perusahaan. KPI ini dapat membantu departemen General Affairs untuk mengevaluasi efisiensi pengeluaran dan memastikan bahwa pengeluaran yang dilakukan tidak melebihi batas yang ditetapkan.

  • Rasio Ketersediaan Fasilitas:

KPI ini mengukur rasio ketersediaan fasilitas yang dikelola oleh departemen General Affairs seperti ruangan pertemuan, parkir, dan fasilitas lainnya. KPI ini dapat membantu departemen General Affairs untuk mengevaluasi efektivitas manajemen fasilitas dan memastikan bahwa fasilitas tersedia dalam kondisi yang baik dan siap digunakan.

  • Tingkat Kepatuhan Karyawan:

KPI ini mengukur tingkat kepatuhan karyawan terhadap kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh departemen General Affairs seperti aturan parkir, keamanan dan peraturan lainnya. KPI ini dapat membantu departemen General Affairs untuk mengevaluasi tingkat kepatuhan karyawan dan memastikan bahwa peraturan yang ditetapkan diikuti dengan baik.

  • Tingkat Ketersediaan Alat dan Perlengkapan:

KPI ini mengukur tingkat ketersediaan alat dan perlengkapan yang dikelola oleh departemen General Affairs seperti peralatan kantor, furnitur dan perlengkapan lainnya. KPI ini dapat membantu departemen General Affairs untuk mengevaluasi efektivitas manajemen inventaris dan memastikan bahwa alat dan perlengkapan tersedia dalam kondisi yang baik dan siap digunakan.

Contoh KPI di atas adalah contoh umum yang dapat digunakan oleh departemen General Affairs. Namun, perusahaan dapat menetapkan KPI yang lebih spesifik dan relevan dengan tujuan bisnis perusahaan dan kebutuhan departemen General Affairs masing-masing.

Contoh KPI Departemen Produksi

erikut adalah beberapa contoh KPI dari departemen produksi:

  • Tingkat Pemanfaatan Mesin:

KPI ini mengukur seberapa banyak mesin produksi digunakan selama waktu produksi dan seberapa lama mesin tersebut mengalami downtime. KPI ini dapat membantu departemen produksi untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan mesin dan mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan downtime.

  • Tingkat Rework dan Scrap:

KPI ini mengukur jumlah produk yang harus diproses ulang atau dibuang karena cacat atau kesalahan dalam proses produksi. KPI ini dapat membantu departemen produksi untuk mengevaluasi kualitas produk yang dihasilkan dan mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan.

  • Efisiensi Produksi:

KPI ini mengukur seberapa banyak produk yang dihasilkan oleh departemen produksi dalam satu periode waktu tertentu. KPI ini dapat membantu departemen produksi untuk mengevaluasi efektivitas proses produksi dan memastikan bahwa target produksi tercapai.

  • Tingkat Kepatuhan terhadap Standar Produksi:

KPI ini mengukur seberapa sering produk yang dihasilkan memenuhi standar produksi yang ditetapkan. KPI ini dapat membantu departemen produksi untuk mengevaluasi kualitas produk dan memastikan bahwa proses produksi memenuhi standar yang ditetapkan.

  • Waktu Tunggu Antara Produksi:

KPI ini mengukur waktu yang diperlukan antara produksi suatu produk dan produk berikutnya. KPI ini dapat membantu departemen produksi untuk mengevaluasi efisiensi produksi dan memastikan bahwa waktu produksi dapat ditingkatkan.

  • Tingkat Penggunaan Bahan Baku:

KPI ini mengukur seberapa banyak bahan baku yang digunakan dalam produksi produk. KPI ini dapat membantu departemen produksi untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan bahan baku dan memastikan bahwa penggunaan bahan baku dapat dioptimalkan.

Contoh KPI di atas adalah contoh umum yang dapat digunakan oleh departemen produksi. Namun, perusahaan dapat menetapkan KPI yang lebih spesifik dan relevan dengan tujuan bisnis perusahaan dan kebutuhan departemen produksi masing-masing.

Contoh KPI Departemen IT

Berikut adalah beberapa contoh KPI dari departemen IT:

  • Waktu Downtime Sistem:

KPI ini mengukur berapa lama sistem IT perusahaan mengalami downtime dalam satu periode waktu tertentu. KPI ini dapat membantu departemen IT untuk mengevaluasi efektivitas pengelolaan sistem IT dan memastikan bahwa sistem IT dapat digunakan dengan optimal.\

  • Waktu Resolusi Masalah:

KPI ini mengukur berapa lama departemen IT memerlukan waktu untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam sistem IT perusahaan. KPI ini dapat membantu departemen IT untuk mengevaluasi efektivitas tim IT dalam menyelesaikan masalah dan memastikan bahwa masalah dapat diatasi dengan cepat.

  • Tingkat Kepuasan Pengguna:

KPI ini mengukur tingkat kepuasan pengguna terhadap sistem IT yang digunakan. KPI ini dapat membantu departemen IT untuk mengevaluasi kualitas sistem IT dan memastikan bahwa pengguna merasa puas dengan layanan yang disediakan.

  • Rasio Ketersediaan Teknologi Terbaru:

KPI ini mengukur seberapa banyak teknologi terbaru yang digunakan oleh perusahaan dalam satu periode waktu tertentu. KPI ini dapat membantu departemen IT untuk mengevaluasi tingkat inovasi perusahaan dan memastikan bahwa teknologi yang digunakan sesuai dengan kebutuhan bisnis.

  • Tingkat Kepatuhan terhadap Keamanan Sistem:

KPI ini mengukur seberapa sering sistem IT perusahaan mengalami pelanggaran keamanan atau serangan cyber. KPI ini dapat membantu departemen IT untuk mengevaluasi tingkat keamanan sistem dan memastikan bahwa tindakan keamanan yang tepat diambil untuk mencegah pelanggaran keamanan di masa depan.

  • Rasio Penggunaan Sumber Daya IT:

KPI ini mengukur seberapa banyak sumber daya IT yang digunakan dalam satu periode waktu tertentu. KPI ini dapat membantu departemen IT untuk mengevaluasi efisiensi penggunaan sumber daya IT dan memastikan bahwa penggunaan sumber daya IT dapat dioptimalkan.

Contoh KPI di atas adalah contoh umum yang dapat digunakan oleh departemen IT. Namun, perusahaan dapat menetapkan KPI yang lebih spesifik dan relevan dengan tujuan bisnis perusahaan dan kebutuhan departemen IT masing-masing.

Tingkatkan Kompetensi dalam membuat KPI

Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan oleh praktisi HR untuk meningkatkan kompetensi dalam membuat KPI:

  • Pendidikan dan Pelatihan:

Praktisi HR dapat mengikuti pelatihan dan pendidikan tentang KPI, baik melalui seminar, workshop, atau sertifikasi KPI. Hal ini dapat membantu praktisi HR memahami konsep dan praktik terbaik dalam membuat KPI, serta memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru. Silakan IKUT dalam training HRD Forum atau Undang HRD Forum untuk memberikan pelatihaan KPI di perusahaan Anda.

  • Penelitian dan Studi Kasus:

Praktisi HR dapat melakukan penelitian tentang KPI dan studi kasus tentang bagaimana perusahaan lain mengembangkan KPI yang efektif dan relevan dengan bisnis mereka. Hal ini dapat membantu praktisi HR memperoleh wawasan dan inspirasi tentang bagaimana membuat KPI yang efektif dan relevan.

  • Kolaborasi dan Komunikasi:

Praktisi HR dapat bekerja sama dengan departemen lain dan membangun komunikasi yang baik dengan mereka untuk memahami kebutuhan dan tujuan bisnis mereka. Hal ini dapat membantu praktisi HR mengidentifikasi KPI yang sesuai dengan tujuan bisnis dan kebutuhan departemen lain.

  • Evaluasi dan Pembaruan:

Praktisi HR dapat terus melakukan evaluasi dan pembaruan terhadap KPI yang sudah dibuat. Hal ini dapat membantu praktisi HR untuk memastikan bahwa KPI yang dibuat masih relevan dan efektif dalam mencapai tujuan bisnis perusahaan.

  • Analisis Data:

Praktisi HR dapat menggunakan data dan analisis data untuk mengukur dan memperbaiki KPI yang sudah dibuat. Hal ini dapat membantu praktisi HR untuk memperoleh informasi yang akurat dan relevan tentang performa bisnis dan membuat keputusan yang lebih baik dalam mengembangkan KPI yang efektif dan relevan.

Dengan melakukan hal-hal di atas, praktisi HR dapat meningkatkan kompetensinya dalam membuat KPI dan membantu perusahaan mencapai tujuan bisnis yang lebih baik.

Salam HRD Forum

Bahari Antono
17 Maret 2023
.
Profil Bahari Antono:
Beliau adalah Owner dan Founder HRD Forum. Menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Indonesia dan menyelesaikan pendidikan S2 di Institut Teknologi Bandung.
Beliau adalah trainer, konsultan sekaligus entrepreneur. Jika Anda ingin mengundang pak Bahari Antono untuk mengisi Inhouse Training di perusahaan Anda, silakan menghubungi Admin HRD Forum di Wa.08788-1000-100 atau 0818-715595.
.
#hrdforum

HRD Forum Connect :

linktr.ee/hrdforum
linktr.ee/hrdforum
linktr.ee/hrdforum

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
Open chat
membutuhkan Inhouse training?