Bukan Kurang Orang, Tapi Salah Hitung: Realita Analisis Beban Kerja di Perbankan Indonesia

Bukan Kurang Orang, Tapi Salah Hitung: Realita Analisis Beban Kerja di Perbankan Indonesia

Oleh: Bahari Antono, ST, MBA

Pendahuluan

Kita kurang orang.
Kalimat ini mungkin menjadi salah satu pernyataan paling sering terdengar di ruang rapat perbankan. Ketika target tidak tercapai, SLA meleset, atau karyawan mulai kelelahan, solusi yang muncul hampir selalu sama: penambahan SDM.

Namun pertanyaan mendasarnya jarang diajukan secara jujur:
apakah bank benar-benar kekurangan orang, atau justru salah menghitung beban kerja?

Di sinilah realita analisis beban kerja di perbankan Indonesia sering kali berbeda jauh dari asumsi manajemen. Artikel ini mengajak praktisi HR dan Human Capital bank untuk melihat persoalan secara lebih kritis—bahwa masalah utama sering bukan jumlah orang, melainkan metodologi perhitungan kebutuhan SDM yang tidak akurat dan tidak kontekstual.


Narasi Umum Manajemen: Kurang Orang = Tambah Headcount

Dalam praktik sehari-hari, banyak bank masih menggunakan logika sederhana:

  • Target naik → pekerjaan bertambah
  • Pekerjaan bertambah → orang kurang
  • Orang kurang → rekrutmen

Pendekatan ini terdengar logis, tetapi berbahaya jika tidak didukung analisis beban kerja (workload analysis) yang benar. Tanpa perhitungan yang tepat, penambahan SDM justru:

  • Tidak menyelesaikan akar masalah
  • Meningkatkan biaya organisasi
  • Menyembunyikan inefisiensi proses

Realita di Lapangan: Salah Hitung Lebih Sering Terjadi

Berdasarkan berbagai studi dan praktik HR perbankan, ditemukan pola yang berulang:

  • Unit kerja terlihat overload, tetapi sebenarnya banyak waktu terbuang di aktivitas non–value added
  • Jabatan tertentu sangat sibuk, sementara jabatan lain underload
  • SDM berpengalaman menangani pekerjaan administratif yang seharusnya bisa diotomasi

Masalahnya bukan kurang orang, melainkan beban kerja yang tidak terdistribusi dan tidak terukur dengan benar.


FTE Bank: Angka yang Sering Disalahgunakan

Full Time Equivalent (FTE) seharusnya menjadi alat objektif untuk menghitung kebutuhan SDM bank. Namun dalam praktiknya, FTE sering:

  • Dihitung berdasarkan asumsi kasar
  • Tidak memperhitungkan kompleksitas dan risiko pekerjaan
  • Mengabaikan variasi volume kerja harian dan musiman

Akibatnya, hasil FTE terlihat “ilmiah”, tetapi tidak mencerminkan realitas kerja di lapangan.

FTE yang salah justru memperkuat keputusan yang keliru.


Kesalahan Umum dalam Perhitungan Kebutuhan SDM Bank

1. Menganggap Semua Jam Kerja Sama Nilainya

Dalam perbankan, satu jam kerja analis kredit tidak setara dengan satu jam kerja administratif. Tingkat konsentrasi, risiko, dan dampak kesalahan sangat berbeda.

2. Mengabaikan Beban Kerja Tak Terlihat

Koordinasi, klarifikasi, koreksi error, dan tekanan audit sering tidak masuk perhitungan, padahal menyita energi dan waktu signifikan.

3. Tidak Memisahkan Volume dan Kompleksitas

Volume kerja boleh sama, tetapi kompleksitas kasus bisa sangat berbeda—dan ini jarang masuk dalam model perhitungan SDM.


Ketika Salah Hitung Menjadi Risiko Sistemik

Kesalahan dalam analisis beban kerja bukan hanya isu HR, tetapi bisa berkembang menjadi:

  • Peningkatan human error
  • Pelanggaran SOP dan kepatuhan
  • Temuan audit berulang
  • Burnout pada posisi kritikal

Ironisnya, organisasi sering menyalahkan individu, bukan sistem perhitungannya.


Analisis Beban Kerja yang Sehat: Apa yang Seharusnya Dilakukan?

Analisis beban kerja yang serius di bank harus mencakup:

  • Breakdown aktivitas hingga level task
  • Pengukuran waktu standar yang realistis
  • Penilaian kompleksitas dan risiko pekerjaan
  • Perhitungan FTE berbasis jam kerja efektif, bukan jam teoritis

Dengan pendekatan ini, HR dapat membedakan:

  • Masalah kapasitas SDM
  • Masalah desain proses
  • Masalah distribusi kerja

Peran HR/HC: Mengoreksi Narasi, Bukan Sekadar Mengikuti

HR strategis tidak hanya menjalankan permintaan bisnis, tetapi berani mengoreksi asumsi yang keliru. Ketika unit meminta tambahan orang, HR perlu bertanya:

  • Apakah beban kerja benar-benar overload?
  • Aktivitas mana yang menyita waktu paling besar?
  • Apakah masalahnya SDM atau proses?

Data workload dan FTE memberi HR posisi tawar berbasis fakta, bukan opini.


Dari Tambah Orang ke Perbaikan Sistem

Banyak bank menemukan bahwa setelah analisis beban kerja yang objektif:

  • Kebutuhan SDM tidak sebesar yang dibayangkan
  • Redesign proses memberi dampak lebih besar daripada rekrutmen
  • Kinerja meningkat tanpa menambah headcount signifikan

Ini membuktikan bahwa solusi tidak selalu berada pada jumlah orang, tetapi pada cara kerja.


Dampak Jangka Panjang bagi Organisasi

Analisis beban kerja yang tepat membantu bank:

  • Mengendalikan biaya SDM
  • Menurunkan risiko operasional
  • Meningkatkan engagement karyawan
  • Menjaga keberlanjutan kinerja

Sebaliknya, salah hitung yang dibiarkan akan menjadi utang organisasi di masa depan.


Kesimpulan

Di perbankan Indonesia, masalah SDM sering disederhanakan menjadi isu kekurangan orang. Padahal, realitanya jauh lebih kompleks.

Bukan kurang orang, tetapi salah hitung.
Tanpa analisis beban kerja dan perhitungan FTE yang akurat, bank berisiko mengambil keputusan mahal yang tidak menyelesaikan masalah inti.

HR dan Human Capital bank memiliki peran strategis untuk mengubah narasi ini—dari sekadar menambah orang, menjadi membangun sistem kerja yang sehat, efisien, dan aman.

Karena dalam industri berisiko tinggi seperti perbankan, kesalahan perhitungan SDM adalah risiko bisnis yang nyata.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

Archives

You May Also Like

Business Continuity Plan di industri penerbangan bukan sekadar kepatuhan, tapi fondasi keselamatan, operasional 24/7, dan kepercayaan publik global.
Masalah SDM di bank sering disimpulkan terlalu cepat: “kita kurang orang.” Padahal, yang lebih sering terjadi adalah salah membaca beban...
Analisis beban kerja menjadi dasar penting bagi kepala cabang dan pimpinan divisi bank dalam mengambil keputusan SDM yang objektif dan...

You cannot copy content of this page