Status Cuti Saat Dapat Hadiah Umroh atau Hadiah Liburan Ke Luar Negeri | HRD Forum
Home | Article | Status Cuti Saat Dapat Hadiah Umroh atau Hadiah Liburan Ke Luar Negeri

Status Cuti Saat Dapat Hadiah Umroh atau Hadiah Liburan Ke Luar Negeri

Berbicara tentang Hadiah umroh atau hadiah liburan ke luar negeri yang diberikan beberapa perusahaan kepada karyawannya, berikut ada case manarik yang bisa kita ambil pelajarannya, sehingga apabila perusahaan kita ingin memberi hadiah umroh atau hadiah liburan ke luar negeri buat karyawan, kira sudah tahu, aturan-aturan seperti apa yang harus kita buat dan persiapkan, agar semuanya berjalan dengan baik. Selamat menyimak salah satu diskusi yang kami angkat dari diskusi di [email protected] yang dikelola oleh HRD Forum. Jika Anda tertarik bergabung dalam Diskusi HRD Forum, silakan klik di sini.

Selamat Menyimak.

Pertanyaan :

Selamat pagi…

Saya ingin konsultasi, apabila Perusahaan memberikan hadiah umroh atau hadiah liburan ke luar negeri, apakah secara otomatis memotong hak cuti tahunan karyawan ybs ? Karena ini kan hadiah bukan atas pengajuan pribadi karyawan ybs, untuk saat ini di tempat saya terjadi polemik, mengapa diberi hadiah tetapi memotong hak ? Mohon pencerahan, mungkin ada dasar aturan UU untuk hal ini, terima kasih

Laksmi Larasati

Tanggapan dari rekan-rekan HRD Forum

  • Tanggapan 1 :

memang pada prinsipnya cuti itu adalah hak . yang bisa diambil atas kehendak yang punya hak dan kondisi di kesibukan di pekerjaan serta kepentingan yang punya hak . jadi tidak bisa secara langsung dapat menggantikan untuk kepentingan lain . akan tetapi kalau dalam pemberian hadiah itu sudah ada kesepakatan antara kedua belah pihak tentang masalah cuti tersebut maka hal itu tidak menjadi masalah, yang penting ada kesepakatan kedua belah pihak. terima kasih .

ari

  • Tanggapan 2 :

UU No.13 Tahun 2003

Pasal 79

(3) Pelaksanaan waktu istirahat tahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf c diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.

Silahkan cek dulu perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau pkb apakah sdh diatur perihal tsb apabila tidak maka tidak seyogyanya dipotong cuti berdasar pasal 79 di atas

Sincerely

Arda Juni Yanto

PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin

  • Tanggapan 3 :

Dear mba Laksmi,

Ikut sharing yaaa..

Di setiap perusahaan pasti ada aturan dan kebijakan..mungkin hal tersebut merupakan kebijakan, kalau dalam aturan UU 13 th 2003,pasal 80,93.2e tdk menyebutkan pemotongan hak cuti, jadi seharusnya kebijakan diberikan lebih baik daripada aturan yg berlaku..

Terima kasih atas perhatiannya..

Asep

  • Tanggapan 4 :

Mbak Irna,

Saya mau konfirmasi dulu, ini yang memberi hadiah pihak perusahaan tempat karyawan bekerja ya?

Coba dimengerti dulu, yang menjadi hadiah itu apa sih? Logika umumnya hadiah tersebut mencakup biaya transport & akomodasi (berupa tiket pesawat & hotel) untuk umroh/liburan kan? Kalau misalnya seorang karyawan di tempat mbak Irna mendapatkan hadiah seperti itu dari pihak lain, apakah pihak tersebut juga diharuskan untuk menanggung/mengganti hak cuti di tempat yang bersangkutan bekerja?? Tidak kan…

Jadi kalo memang hadiahnya berupa transport & akomodasi ya…si penerima hadiah tinggal mencari waktu yang tepat untuk menggunakannya dengan cara mengambil cuti untuk berlibur/umroh. Jangan karena perusahaan tempat kita bekerja yang ngasih hadiah lalu dianggap Perusahaan juga harus memberi waktu untuk pemanfaatan hal tersebut. Nanti jangan-jangan bisa merembet sekalian minta uang saku, ngurus visa, bikin passport (buat yang belum punya), dll dengan alasan masa ngasih hadiah tapi membebani…. Jangan ada kesan sudah dikasih hati minta ampela dan jantung pula… Yaaaa…kecuali di hadiah tersebut tertulis jelas mencakup semuanya (tidak seperti pada umumnya). Namanya juga hadiah…kalo suka dan bisa menggunakannya silahkan dipakai, kalo ga ya tinggal dipindahtangankan…saya rasa hadiah macam gitu banyak yang minat kok…. 🙂

Monica

  • Tanggapan 5 :

Selamat Pagi,

Ijin Menanggapi :

Saya kira jika memberikan hadiah mending tidak setengah setengah alangkah bijaknya perusahaan yang menghitungnya sebagai Annual Leave dan Special Leave.

Regards,

Andri

  • Tanggapan 6 :

Dear all,

Kalau hadiah akomodasi liburan tsb. diberikan oleh perusahaan tempat seseorang bekerja, logisnya ya berikan juga sekalian “cuti tambahan” dong.

Percuma diberi hadiah liburan tetapi cutinya tidak diberikan bukan?

Tetapi jika yang memberikan hadiah itu perusahaan lain (misalnya karena menang undian, karena telah menjadi customer yang baik), maka perusahaan tempat si karyawan bekerja tidak perlu memberikan “cuti tambahan”. Kalaupun ybs. mengajukan, perusahaan berhak untuk mengaturnya.

Asrial Chaniago

  • Tanggapan 7 :

Ini contoh beramal tetapi mendapat dosa.

Kalau mau memberikan hadiah sebaiknya yang cermat dan diteliti dulu dampak dari hadiah tersebut sehingga tidak menimbulkan fitnah, sehingga tidak membuat ribut suasana.

Contoh,

– Undian berhadiah tunai, pajak ditanggung pemenang, dll

– Hadiah training gratis, apa saja yang harus dipersiapkan pemenang, dll

– Hadiah COP, apasaja yang harus dipersiapkan pemenang, dll

Salam,

a.kholil

  • Tanggapan 8 :

Rekan,

Kalau dari sisi aturan, pemotongan cuti untuk melaksanakan hadiah liburan diperkenankan, karena cuti adalah hak bersyarat. Kalau dari sisi layak atau tidak, tentunya harus dilihat dari sikon di sana. Penambahan cuti ini bisa mendatangkan manfaat ataupun mudarat.

Jadi saran saya, cek lagi apa filosofi dan tujuan pemberian hadiah ini, kemudian analisa risk-benefitnya, baru putuskan apakah cutinya ditambah atau tidak. Dan yg tak kalah penting adalah cara mengkomunikasikannya.

Salam,

Riyan Permadi

  • Tanggapan 9 :

Ditempat kami pernah ada kejadian, Karyawan sudah mendapatkan Libur (bukan cuti) dari Yayasan selama 2 minggu. Tahun tersebut, institusi kami mengadakan piknik karyawan selama 3 hari, dan atas masukan berbagai pihak maka acara piknik tersebut dilaksanakan justru setelah liburan berakhir. Ternyata tidak semua karyawan menghendaki ikut piknik tersebut. Dengan mempertimbangkan bahwa kami sudah mendapatkan hari libur yang lumayan lama (bisa sampai 3 minggu), dan jatah cuti tahunan karyawan yang masih menumpuk (berpotensi hangus juga) akhirnya kami tawarkan : Jika ikut piknik (karyawan dan keluarga) akan memotong cuti tahunan. Yang tidak ikut piknik silahkan bekerja, atau mengajukan cuti tahunannya. Pertimbangan lainnya adalah kami adalah 1 dari 4 institusi dibawah 1 Yayasan, untuk itu kami menjaga munculnya selentingan-selentingan dari institusi lain sehubungan dengan kegiatan rekreatif yang kami selenggarakan.

Salam,

Khrismas Agung

  • Tanggapan 10 :

Kenapa gak diatur jebakan betmen nya? Maaf bercanda, maksudnya sebelumnya harus dibuat aturan mainnya bahwa jika penerima hadiah umroh bersedia diambil hak cutinya manakala pergi umroh.

Jika keberatan hak cutinya diambil maka hadiah umroh (tiket, akomidasi dan biaya umroh) yang katanya nilainya 20-40 juta akan hangus.

Nah karyawan pilih umroh atau mempertahankan saldo cuti?

Hemat saya lebih baik pahit di depan dulu daripada jadi polemik.

Salam super,

Bambang SN

  • Tanggapan 11 :

Ijin turut berkomentar:

Sebaiknya pemberian reward tidak diberikan setengah2. Karena reward diberikan untuk mengapresiasi kinerja karyawan dan tidak untuk menimbulkan polemik bagi penerima reward utk tidak mengambil reward tersebut karena adanya kendala cutinya habis, biaya, dll. Jadi sebaiknya memang diberikan secara sekaligus bahkan termasuk uang saku ybs selama menjalani umrah atau liburan, krn bs jadi karyawan yg diapresiasi di level clerk atau non staff dimana bisa jadi ybs tdk bersedia utk menerima reward tersebut krn keterbatasan biaya. Sehingga tujuan utama perusahaan utk memberikan reard/hadiah justru tidak mengena.

Saya setuju bahwa hal ini ada di tataran kebijakan, perusahaan bs mengatur:

  • Umroh/hadiah liburan diberikan secara lengkap: pengurusan passport jk belum punya, tiket & akomodasi, uang saku dan tidak memotong hak cuti tahunan karyawan.
  • Diberikan secara lengkap namun memotong hak cuti tahunan.
  • Diberikan tidak full namun tidak memotong hak cuti tahunan.
  • Diberikan tidak full dengan memotong hak cuti tahunan.

Semoga bermanfaat.

Mas Yhogi

Diskusi tsb adalah diskusi antara member [email protected] ; Jika Anda tertarik untuk bergabung dalam diskusi bersama praktisi HRD se Indonesia, silakan bergabung di sini. Sampai saat ini jumlah member [email protected] telah berjumlah lebih dari 20.400 peserta diskusi yang berasal dari seluruh Indonesia.

Sudah follow Twitter HRD Forum ? Follow us @HRDForum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*