Alat Tes yang tepat untuk psikotes karyawan secara sederhana | HRD Forum
Home | Article | Alat Tes yang tepat untuk psikotes karyawan secara sederhana

Alat Tes yang tepat untuk psikotes karyawan secara sederhana

Artikel tanya jawab HRD seputar pertanyaan tentang Alat Test yang tepat untuk psikotes karyawan secara sederhana, kami kutip dari mailing-list [email protected], sebagai informasi, milist [email protected] adalah milist resmi HRD Forum yang dikelola secara profesional. Milis Diskusi HRD ini dibuat oleh Bpk. Bahari Antono pada tanggal 21 Maret 2004 dengan tujuan untuk media belajar bersama dan juga sebagai media untuk bisa saling mengenal diantara sesama praktisi HRD se Indonesia. Jika anda belum bergabung, dapat bergabung disini. Semoga artikel HRD ini dapat menambah pengetahuan bagi kita bersama. Terima Kasih telah memilih HRD Forum.
—-
Tanya :
Dear teman-teman HR yang profesional dan baik hati,
Mohon saran dan masukannya, perusahaan tempat saya bekerja sedang butuh beberapa karyawan dan Saya sebagai HR satu-satunya di sini diminta untuk mengaplikasikan psikotes yang dapat memuat aspek: Analytical, Problem Solving & Initiative. Apa alat tes yang sederhana, sesuai dan tepat guna yang dapat melihat ketiga aspek di atas?
Terima kasih, Soraya
—-
Jawab :
Sedikit masukan:
Kami menerapkan assessment tools sbb:
1. Analytical Thinking, Conceptual Thinking dan Problem Solving dengan In-Tray Simulation (yang utama), Group Exercise, Presentation Simulation, Ability Test, CBI dan Inventory (DAM, Pauli, Baum Kraepplin).
2. Initiative dengan CBI (Compenety Based Interview) yang utama dan sebagai tambahan seperti nomor 1 tersebut diatas.
dan masih banyak lagi tersedia assessment tools.
tks, brgds, Bekti Harsono
—-
Dear Soraya
Gunakan saja Papi kostik sederhana
salam, Prins Anandi
—-
Pak Bekti, itu si bukan sederhana. Itu si lumayan lengkap. Yang di test mabok, yang ngetest cape nunggu nya pak. Hehehehe
Salam, Hilda Angelina
—-
Ya nggak harus semua tools dipakai dunk…cuman risikonya ya kurang tepat…tinggal pilih mana….selalu ada trade-off. kalo mau gampang lihat Primbon Jawa juga boleh kok Mbak (wetone opo). Nuwun.
brgds. Bekti Harsono
—-
Dear Bu soraya,
Menurut saya, tdk masalah tools yg digunakan apa saja asalkan dapat mengukur aspek2 yg akan dilihat. Yg paling penting dalam penggunaan tools adalah kemampuan atau penguasaan kita terhadap tools tersebut. Sebaiknya memang tools yg dipakai tidak terlalu banyak tetapi dapat meng-capture apa yg ingin diukur. 🙂 Demikian masukan dr sy. Semoga membantu.
Regards, Desy Arianty
—-
Wah sepertinya bpk tau persis hitung2an primbon. Buktinya tau kalo itu mudah. Hehehe
Ya memang resikonya begitu, makanya Lihat posisinya dulu dan sdm nya tentunya.
Byk alat test yg digunakan, realibel dan valid tp sdm nya kurang mumpuni, intrepretasi salah. test grafis misalkan. Salah intrepretasi kan repot.
Dan kalopun bnr, tetap hasilnya hanya kecenderungan bukan suatu yg pasti ataupun labelitas.Wrmrgd, hildagrenier
—-
Inggih bener Mbak, seluruh tools yang ada didunia ini digunakan semua (baik lokal maupun import) dan yang menginterpretasikan Senior Rater yang banyakpun (Multiple Rater) tetep ketepatan bidiknya untuk “menilai” manusia tidak akan lebih dari 65%. Jadi ya pertimbangkan dengan mateng Cost n Benefits rationya. Nuwun.
brgds Bekti Harsono
—-
Ide Bagus Pak Prins Anandi, kenapa ga kepikiran sama saya ya..heheTerima kasih, Soraya
—-
Dear Ibu Soraya,Silahkan Ibu gunakan PAPI kostick dan IST (Intelegensi).
1. PAPI Kostick : skoring mudah dan memungkinkan untuk dipahami oleh non “Psikologi”, juga ada standar angka untuk penilaiannya.
2. IST : skoringnya sedikit lebih rumit dibanding PAPI Kostick tapi juga ada skor akhir dari setiap aspek, yang akan memudahkan Ibu untuk membandingkan hasil tes setiap kandidat.Lebih mudahnya sih kirim aja kandidatnya ke lembaga atau biro psikologi, hehe. Terimakasih..
Warm regards, MRz, Muhammad Rezha
—-
Dear Pak Reza,
Wah iya ide bagus itu papikostik untuk liat inisiatif problem solving dll dan IST untuk melihat kemampuan analisis (secara IQ nya) saya ga kepikiran (padahal saya lulusan psikologi).Thanks berat Pak. Salam, Soraya
—-Selamat Malam,
Dear Mbak Hilda,
Ikut menyimak dan menulis ya, setau saya alat test psikologi itu memang mempunyai hasil yang menunjukkan “kecenderungan”, hal ini dikarenakan setiap individu tersebut mempunyai keunikan yang berbeda. Jadi professional judgement yang dibuat oleh penilai dari hasil psikotest tersebut menunjukkan kecenderungan. Mohon kritik dan sarannya.Terima kasih, Tetap semangat… Yanuar Bayu Zaidani
—-
Dear,
Saya sharing yang pernah saya lakukan :
1. Sy pergunakan primbon untuk mencari gambaran pikiran dan hati orang.
2. Selanjutnya sy lihat “kebangkitan” orang dalam kehidupannya, biasanya saya lihat dr CV atapun wawancara langsung dengan ybs. Dari sini diharapkan dpt gambaran : kearifan, kesabaran, kesadaran, kebijaksanaan, mendudukkan, tuntunan, panutan, tatanan, keyakinan, kemantapan orang tsb.
3. Setelah itu akan didpt gambaran orang itu cocok atau tdk untuk direkrut. Kalaupun harus direkrut, kita bisa berikan saran perbaikan pada org tsb terhadap hasil no 2 untuk penyempurnaan no. 1.Demikian sekedar sharing dari yg sy ketahui.

Salam, A.kholil
—-
Wah!!! jadi kepancing pancing juga ingin ikutan nimbrung
Apa yang diutarakan oleh Pak Kholil, ya sah sah saja, apalagi kalau memang sudah mendalami ilmu primbon. Untuk saya sendiri, yang pertama saya cermati adalah tulisan, karena tulisanlah yang pertama kali kita dapatkan dari calon, melalui berkas lamarannya.
Saya mencermati apakah tulisannya terputus putus atau nyambung terus seperti XL (wkwkwkwk….), tegak lurus atau miring ke kiri atau ke kanan penempatan titiknya bagaimana? (Metode ini sudah pernah dijelaskan oleh psikolog pada salah satu acara TV untuk mencari tahu kepribadian seseorang, mengapa melakukan kejahatan). Kemudian saya cermati lagi susunan kalimatnya, apakah runtut atau tidak?
Pada saat interview, saya cermati profil wajahnya, jidat lebar atau sempit, rahang lebar atau sempit, matanya, mata elang atau mata burung hantu, dan rambutnya seperti apa. Nah, apakah ini valid atau tidak? saya tidak bisa mengatakan bahwa itu pasti atau secara kebetulan, akan tetapi banyak benarnya. Apakah metode ini sah atau tidak, saya justru belajar dari buku buku yang ditulis oleh mereka yang sudah berpengalaman dalam bidangnya. Saya pernah juga mendapat penjelasan dari seorang rekan, bahwa dia bisa mengetahui kecenderungan karakter melalui jenis golongan darahnya

Simon J. Sibarani
—-
Pak Simon Sibarani

Mohon buku bukunya dpt di share..minimal judul bukunya, agar kita juga mendapat tambahan wawasan
Kan jika kita berbagi akan menambah kemudahan bagi diri pribadi.

Maklum dan terima kasih, Susilo
—-
Waddow Pak Susilo, buku bukunya sudah gak tau kemana lagi, soalnya sudah cukup lama saya beli / baca. Namun, kalau saya lagi jajan ke toko buku, saya masih sering melihat buku buku seperti itu masih banyak dijual, Silahkan deh sering sering ke Gramedia atau Gunung Agung

Simon J. Sibarani
—-
Dear Pak Susilo,

Buku-buku tentang cara memahami karakter seseorang dari tulisan (grafologi), dari bentuk tubuh, gerak tubuh / bahasa tubuh, bisa dicari di toko buku G****dia misalnya, bisa cari di rak “Psikologi”. Kalau memahami kecenderungan karakter dari golongan darah itu asalnya dari Jepang. Saya juga dapat penjelasan ini dari rekan waktu saya kerja di sebuah konsultan HR di Jakarta (Pak Simon sepertinya tahu ya..).
Ada juga namanya Kokologi, dari Jepang juga nih Pak, ini contohnya :

BURUNG BERWARNA BIRU
Suatu hari burung berwarna biru tiba-tiba masuk ke kamar anda melalui jendela dan terperangkap di dalam. Ada sesuatu pada burung tersesat ini yang menarik. Anda memutusakan untuk memeliharanya. Tapi anda terkejut karena esoknya burung berubah warna, dari biru menjadi kuning! Burung berubah warna lagi dalam waktu semalam – di pagi hari di hari ketiga berubah menjadi merah terang, dan di hari keempat berubah menjadi hitam. Warna apa burung akan berubah ketika anda bangun di hari kelima?

Burung tidak berubah warna, tetap hitam.
Burung berubah kembali menjadi warna biru.
Burung berubah menjadi warna putih.
Burung berubah menjadi warna emas.

Burung yang masuk ke kamar nampak seperti simbol nasib baik, tapi tiba-tiba berubah warna, membuat kuatir kebahagiaan anda tidak akan bertahan lama. Reaksi terhadap situasi ini menunjukkan bagaimana anda merespon kesulitan dan ketidakpastian dalam kehidupan nyata.

Mereka yang mengatakan burung tetap hitam memiliki pandangan pesimis.

Apakah anda cenderung percaya bahwa sekali situasi menjadi buruk, maka tidak akan kembali normal? Mungkin anda harus mencoba berpikir, “jika situasi sudah sangat buruk, maka tidak akan berubah menjadi lebih buruk. Ingatlah tidak ada hujan yang tidak berhenti. Tidak ada malam yang selalu gelap dimana tidak akan muncul fajar”.

Mereka yang berkata burung berubah biru kembali adalah orang yang optimis.

Anda percaya bahwa hidup adalah campuran antara baik dan buruk. Tidak ada gunanya melawan kenyataan. Anda menerima kemalangan dengan tenang dan membiarkan segala sesuatunya berjalan sesuai jalur tanpa stres dan kuatir. Harapan ini membuat anda menjalani gelombang kemalangan tanpa terhanyut di dalamnya.

Mereka yang berkata burung berubah menjadi warna putih adalah orang yang tenang dan tegas di bawah tekanan.

Anda tidak perlu menghabiskan waktu hanya untuk resah dan tidak mengambil keputusan ketika krisis timbul. Jika situais memburuk, anda merasa lebih baik membuang kekalahan dan mencari cara baru mencapai sasaran daripada berhenti dalam kesedihan yang tidak perlu. Pendekatan proaktif ini berarti segala sesuatu secara alami berjalan sesuai keinginan.

Mereka yang berkata burung berubah menjadi warna emas dapat digambarkan sebagai orang yang tidak memiliki rasa takut.

Anda tidak mengenal tekanan. Bagi anda, setiap krisis adalah sebuah kesempatan. Anda dapat dibandingkan dengan Napoleon, yang berkata, …”mustahil:kata itu bukanlah bahasa Perancis”. Tapi berhati-hatilah untuk tidak membiarkan kepercayaan diri yang tidak terbatas mengalahkan anda. Ada batas tipis antara tidak memiliki rasa takut dengan membabi buta.
Sekedar sharing, terimakasih..

MRz, muhammadrezha
—-
Jika anda ingin ikut aktif dalam diskusi bersama lebih dari 20.600 member HRD lainnya, silakan bergabung dalam mailing-list [email protected], caranya sangat mudah, kirimkan email kosong ke : [email protected] ; Terima Kasih telah memilih HRD Forum.

One comment

  1. wah klo saya ada dua test sederhana yang munkin bisa mencakup semua-muanya, dimana calon karyawan bisa di test bukan hanya pribadinya namun juga mentalnya, saya sudah menerapkan-nya selama 4 tahun terakhir ini dan hasilnya sih lumayan bisa memfilter banyak karyawan dan ini tidak menyita waktu kita sebagai HRD (karena tidak perlu ditunggu saat test dan hanya memakan waktu 20-25menit), hal ini cukup menggunakan kemampuan hitung-hitungan excel sederhana.
    hasilnya yang kita nilai berupa :
    1. ketahanan karyawan dalam tekanan kerjaan.
    2. ketelitian dalam mereka bekerja (sama dengan test koran).
    3. logika dan penalaran dari setiap calon karyawan.
    4. pribadi karyawan.
    ini cuma saran aja, semoga info ini bermanfaat buat teman-teman HRD sekalian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*