Artikel HRD : Kenaikan Gaji dan Dampaknya | HRD Forum
Home | Article | Artikel HRD : Kenaikan Gaji dan Dampaknya buat Perusahaan

Artikel HRD : Kenaikan Gaji dan Dampaknya buat Perusahaan

job-analysis-job-description-180x180RESIKO KENAIKAN GAJI KARYAWAN BUAT PERUSAHAAN

Setiap karyawan pasti memiliki harapan bahwa suatu saat akan mangalami kenaikan upah kerja atau gaji. Dengan naiknya upah kerja maka diharapkan akan meringankan biaya hidup sehari-hari di mana kebutuhan harga-harga kebutuhan pokok sehari-hari semakin mahal. Namun untuk membuat keputusan menaikkan gaji karyawan butuh pertimbangan yang matang dari pihak perusahaan. Hal tersebut dikarenakan ada beberapa efek atau resiko yang diperoleh perusahaan ketika menaikkan gaji para karyawan. Resiko kenaikain gaji karyawan buat perusahan antara lain sebagai berikut:

1.      Meningkatkan biaya produksi

Biaya produksi adalah biaya yang dibutuhkan suatu perusahaan untuk memproduksi suatu barang, baik biaya bahan baku pembuatan barang hingga biaya operasional lainnya. Biaya produksi barang secara otomatis akan meningkat ketika terjadi kenaikan gaji karyawan. Hal tersebut dikarenakan karyawan terlibat dalam proses produksi barang, sehingga upah kerja karyawan tercakup dalam biaya produksi barang. ketika biaya produksi meningkat maka harga jual produk di pasaran akan meningkat pula.

2.      Mengurangi laba perusahaan

Laba adalah keuntungan yang diperoleh perusahaan. Perusahaan dengan  laba tinggi akan berkembang dengan pesat. Namun ketika biaya produksi meningkat, maka  harga jual barang pun akan naik di pasaran. Sehingga barang harus memiliki daya saing cukup tinggi agar dapat menyaingi produk-produk serupa lainnya. Namun apabila gagal bersaing, maka akan mengurangi besarnya laba yang  diterima oleh perusahaan.

3.      Menambah budget perusahaan

Ketika menaikkan gaji karyawan, maka secara otomatis perusahaan akan menambah anggaran tersendiri untuk membayar para karyawannya. Anggaran ini cenderung akan berefek pada hal-hal lain yang berkaitan dengan perkembangan perusahaan, khususnya dalam proses produksi barang.

4.      Ancaman PHK

Saat biaya produksi meningkat, harus diimbangi dengan daya saing yang tinggi di pasaran. Apabila itu tidak terjadi, maka perusahaan akan berfikir untuk mengandalkan mesin sebagai alat produksi barang. Otomatisasi dengan mesin. Menggunakan mesin produksi barang tentu tidak akan membutuhkan karyawan yang terlalu banyak. Sehingga perusahaan akan cenderung mengurangi jumlah karyawan agar dapat memangkas biaya produksi barang. Oleh karena itu rawan terjadinya PHK.

5.      Kepercayaan investor

Investor memiliki peran penting dalam proses berjalannya suatu perusahaan. Investor menanamkan saham dalam suatu perusahaan karena percaya bahwa dari perusahaan tersebut akan memperoleh keuntungan. Namun apabila perusahaan mengalami penurunan omset ataupun mengalami kerugian maka akan mempengaruhi tingkat kepercayaan investor.

6.      Gulung tikar

Apabila harga jual produk cukup tinggi dan tidak mampu bersaing di pasaran, maka perusahaan akan mengalami kerugian. Hal itu dikarenakan laba yang diterima oleh perusahaan akan menurun atau bahkan biaya produksi  tidak kembali lagi. Tentunya penghasilan perusahaan menjadi tidak seimbang antara biaya keluar dan masuknya, yakni biaya keluar lebih besar dibandingkan dengan biaya masuknya. Ketika itu terjadi secara terus menerus maka akan membuat perusahaan gulung tikar alias bangkrut.

**

Jika membaca enam point di atas kok rasa-rasanya ngeri juga ya, tetapi sebagaimana kita ketahui bersama, setiap tahunnya pemerintah daerah mengumumkan nilai UMP baru, upah minimum propinsi terbaru yang cenderung selalu naik setiap tahunnya, artinya mau-tidak mau dan sulit dihindari adanya kenaikan upah bagi karyawan perusahaan.

Lantas perusahaan harus bagaimana? karyawan harus bagaimana?

Idealnya, agar hal-hal negatif yang diuraikan di atas tidak terjadi, maka harus dipastikan bahwa setiap adanya kenaikan upah karyawan, juga dibarengi dengan adanya peningkatan kompetensi karyawan, peningkatan produktifitas dan peningkatan sales, sehingga meningkatnya cost dapat ditutupi dengan adanya peningkatan profit bagi perusahaan.

Tentu kita semua tidak mau kan, jika perusahaan dimana kita bekerja tutup karena tidak sanggup membayar gaji karyawannya ? jika terpaksa tutup, ada berapa banyak kepala keluarga yang akan kehilangan mata pencariannya dan mau tidak mau kita harus mencari perusahaan lain sebagai sumber mata pencarian kita. Seperti lingkaran akan seperti itu, lagi dan lagi.

Karena itu, dibutuhkan kesadaran bersama antara perusahaan dan karyawan, bahwa perusahaan harus membayar gaji semua karyawannya dan karyawan harus sadar bahwa agar perusahaan mampu terus membayar gajinya, maka perusahaan harus menghasilkan profit. profit baru bisa terjadi saat adanya peningkatan sales, peningkatan produktifitas, peningkatan speed business, penurunan cost dan penurunan kebocoran atau pemborosan.

Rekan HRD, suatu saat, perusahaan harus mampu menghitung, berapa jumlah karyawan optimal bagi perusahaannya, yang mampu memberikan profit yang optimum pula. Caranya ? tentu dengan melakukan Workload Analysis atau Analisa Beban Kerja, Analisa bisnis proses dan memastikan efektifitas dan efisiensi terjadi di dalam perusahaan.

Apakah yang dimaksud efektif ? dan apa pula yang dimaksud efisiensi ? lalu bagaimana caranya?

Ikuti terus artikel HRD di website HRD Forum

Salam Komunitas HRD Indonesia !

@HRDForum 2016

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*